Berita Sarolangun

Sumur Warga Bathin VIII Kering, Terpaksa Pakai Air Sungai, DLH Sarolangun Imbau Pakai Penyulingan

Sumur Warga Kering, Terpaksa Pakai Air Sungai, DLH Imbau Warga Pakai Penyulingan

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Deni Satria Budi
Tribunjambi/Wahyu Herliyanto
Sumur Warga Bathin VIII Kering, Terpaksa Pakai Air Sungai, DLH Sarolangun Imbau Pakai Penyulingan 

Sumur Warga Kering, Terpaksa Pakai Air Sungai, DLH Imbau Warga Pakai Penyulingan

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Sumur-sumur warga di Desa Pulau Buayo, Kecamatan Bathin VIII, Kabupten Sarolangun, sudah mulai mengering.  Warga pun terpaksa mengambil air ke sungai.

Tidak ada alternatif lain yang dilakukan masyarakat selain sungai. Meski di sekitar desa ada sebuah sumur bor, namun masyarakat lebih memilih sungai untuk sumber air.

"Sumur bor ado, cuman dak tau masyarakat lebih milih ambik aek (air) di sungai. Sedangkan aek sungai keruh dan dangkal," kata Rayan, seorang warga, Senin (5/8/2019).

Baca: Dampak Kemarau Sumur Mengering, Warga Desa Penerokan di Jambi Kesulitan Air Bersih

Baca: 2 Penyakit Ini Perlu Diwaspadai Saat Musim Kemarau di Muarojambi, Warga Diminta Gunakan Air Bersih

Baca: Pengumuman, Mulai Selasa Besok, PLN Padamkan Listrik di Kerinci dan Kota Sungai Penuh Selama 2 Hari

Menurutnya, kondisi air sungai sangat jauh berbeda dari beberapa tahun belakangan ini dan menimbulkan kekeruhan yang sangat pekat.

Keruhnya air tersebut disebabkan oleh aktifitas ilegal seperti Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang sudah sekian lama beroperasi.

"PETI nyo jauh, tapi aek bekas dompengnyokan ngalir ke sungai, jadi masyarakat yang susah," ujarnya.

Baca: Jambi dan Puluhan Instansi Belum Usulkan Formasi CPNS 2019, Ini Fakta Sebenarnya & yang Akan Terjadi

Baca: Dititipkan ke Lapas, Penyidik Tahan RZ, Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes Bungo

Baca: Inilah Penampakan Wajah Andika Otak Pembunuhan Rahmad Siswa SMK Bhakti Ibu 3, Berawal dari COD Motor

Ia berharap agar aktifitas tersebut dihentikan karena mengingat sungai sudah mulai tercemar. Apalagi pada musim kemarau ini masyarakat sangat merasakan dampaknya.

"Semenjak kemarau ini, kami sekarang sulit cari air bersih, jadi hemat-hemat lah," tuturnya.

"Mengingat sekarang musim kemarau kami mohon kepada pemerintah memberikan air bersih. Kareno kalau ngambik di sungai itu, kalau tidak malam hari airnyo keruh, diakibatkan aktiVitas peti," bebernya.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sarolangun, menginstruksikan agar warga lebih berhati- hati jika menggunakan air sungai tersebut. Terlebih air tersebut sudah mulai tercemar akibat PETI.

Jika masyarakat mengggunakan air sungai, secara langsung apalagi untuk dikonsumsi sangat tidak dianjurkan. Karena tercemarnya air tersebut sudah banyak mengandung bahan berbahaya.

Kabid pengawasan dan pengendalian lingkungan, Dinas Lingkungam Hidup (DLH) Sarolangun, Suhari Sohan mengaku, sejauh ini memang hampir semua lokasi sungai yang ada di Sarolangun tercemar.

Namun, jika tercemar akibat PETI beberapa wilayah ada seperti di daerah aliran sungai (DAS) Kecamatan Limun, CNG dan wilayah Bathin VIII.

Baca: Tulis Pesan untuk Calon Suaminya Kelak, Agnez Mo Ungkap Harapan Ini

Baca: 254 Warga Binaan Lapas Klas II B Muara Bungo, Diusulkan Terima Remisi

Baca: Kerahkan Water Bombing, Hari Ini Karhutla Masih Terjadi di Desa Arang-Arang, Kabupaten Muaro Jambi

Lanjutnya, jika masyarakat ingin menggunakan air sungai sebagai sumber kehidupan, maka masyarakat harus melakukan berbagai cara agar air bisa digunakan. Terlebih pada musim kemarau ini masyarakat sangat sulit mencari air bersih.

Sohan menyarakankan agar masyarakat membuat sistem filterisasi air atau penyulingan. Sistem tersebut bisa menggunakan cara manual.

Caranya, mengunakan dua atau tiga buah drum dengan sistem bertingkat, masing-masing berisi pasir, batu sirtu, dan arang kayu. Filterasi ini memisahkan antara lumpur dari air.

"Sehingga air yang dihasilkan bening dan bersih," katanya.

Jika sudah difilterisasi, air sudah bisa digunakan, namun jika untuk dikonsumsi harus melewati proses pemasakan terlebih dahulu.

"Jika langsung mengkonsumsi bisa efek sampingnya pada kesehatan, dan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam jangka waktu lama," ujarnya

Selain penyulingan juga cara lain bisa digunakan, dengan membuat sumur-sumur dangkal di pinggir sungai.

Cara seperti itu juga sudah banyak dipraktekan di daerah pinggiran sungai daerah Kecamatan Air Hitam dan Batin VIII.

"Seperti sumur endapan, air untuk memisahkan air bersih dengan lumpur, ukuran kedalaman 1 meter bisa," katanya.

Sumur Warga Kering, Terpaksa Pakai Air Sungai, DLH Imbau Warga Pakai Penyulingan (Wahyu Herliyanto/Tribun Jambi)

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved