Gempa Tsunami Dahsyat Laut Selatan Jawa, Sunda Megathrust 400 Tahun Lalu dan Mitos Nyi Roro Kidul

Gempa dan tsunami dahsyat diperkirakan pernah terjadi di Laut Selatan Jawa persisnya di Sunda Megathurst.

Editor: bandot
google
Ilustrasi 

Penambahan Tekanan di Sunda Megathrust

Pakar gempa dan tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko buka suara terkait gempa yang terjadi di Banten, Jumat (2/8/2019).

Diketahui, gempa berkekuatan 7,4 (yang kemudian dimutakhirkan oleh BMKG jadi 6,9) mengguncang wilayah Banten, kemarin malam pukul 19.03 WIB.

Gempa ini terasa hingga sebagian besar Pulau Jawa, Lampung, bahkan sampai Bali.

Pusat kedalaman gempa 10 Km dan sempat berpontensi tsunami, sebelum akhirnya dicabut dua jam kemudian.

Ilmuwan dari BPPT, Widjo Kongko pun ikut memberikan analisanya terkait gempa di Banten.

Dalam Twitter-nya, Widjo Kongko mencuit gempa yang terjadi tidak berpotensi smong.

Smong merupakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, untuk menyebut sebuah gelombang laut besar yang melanda setelah gempa bumi menghantam.

"Lindu Mw6.8, dg epi 70km Baratdaya Sumur-Pandeglang."

"Estimasi patahan 30x20km dg dislokasi ~70cm. Energi setara 2.1e5 TonTNT ~ 14xHNB."

"Deform. dasar laut <~5cm, tdk potensi Smong.

Ikuti arahan otoritas resmi @infoBMKG & @BNPB_Indonesia @infomitigasi," tulis Widjo Kongko.

Dalam cuitan lain, Widjo Kongko juga menulis, sumber gempa berada di segmen Megathrust Selat Sunda dengan potensi magnitudo atau kekuatan 8,7.

Ia berharap, gempa yang terjadi bukan gempa pembuka atau foreshock.

"Sumber Lindu di segmen Megathrust Selat Sunda dg potensi M8.7."

"Ayo berdoa, semoga ini bukan Lindu pembuka/Foreshock," cuit Widjo Kongko dengan menyebut sejumlah akun resmi pemerintah.

 
Lebih lanjut, ilmuwan BPPT tersebut menjelaskan, gempa yang menggoyang Banten berpusat di intraslab, bukan di interface.
Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved