Kisah Militer
Cara Kopassus Mendapat 'Ilmu Rahasia' Kebal, Tiga Jawara Banten Bentengi Pembebasan Sandera
Tiga orang jawara silat orang sipil menjadi ujung tombak Kopassus saat operasi pembebasan sandera di Desa Mapenduma.
Tiga orang jawara silat orang sipil menjadi ujung tombak Kopassus saat operasi pembebasan sandera di Desa Mapenduma.
TRIBUNJAMBI.COM - Kekuatan 'rahasia' Kopassus kerap membuat orang berdecak kagum.
Di balik latihan yang sangat keras, ternyata pasukan elite TNI AD ini mempelajari ilmu rahasia.
Meski sudah memiliki skill tinggi, dalam beberapa misi Kopassus juga mendapat bantuan dari rakyat sipil.
Semboyan 'Bersama Rakyat TNI Kuat' menjadi pesan yang tepat untuk menjaga dan mengamankan NKRI.
Baca Juga
Mertua KSAD Pistolnya Melorot Dalam Celana, Duel di Gubuk Terbakar hingga Kena Tusuk
Penelusuran Aiman Witjaksono: Dugaan Kerusuhan 22 Mei Korban Dieksekusi di Tempat Lain Lalu Di-drop
Selain di MK Eddy Hiariej Ahli Kubu 01 Ternyata Pernah Bersaksi untuk Jessica Kopi Sianida
Habis Wawancara Brigadir Popy dan Bripda Fitri Disuruh Masuk Kamar, Penyamaran Polwan Cantik di Bali
Mayor Umar Nekat Minum Air dari Kandang Kuda, Kopassus Tugas Luar Negeri
Mengutip tulisan Ian Douglas Wilson, pengajar Murdoch University, yang menulis tentang pasukan khusus dan operasi di di Desa Mapenduma, Papua.
Kala itu, sebuah operasi yang dilakukan di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Misi penyelamatan sandera dilakukan TNI baret hijau dan pasukan khususnya yang berbaret merah, yaitu Kopassus.
Siapa sangka, di antara sepasukan berbaret hijau dan pasukan khusus berbaret merah itu, terdapat tiga orang sipil menjadi ujung tombak operasi pembebasan sandera di Desa Mapenduma.
Mereka, H Tubagus Zaini, Tubagus Yuhyi Andawi dan Sayid Ubaydillah Al-Mahdaly merupakan jawara asal Banten.
Ketiga jawara pemilik ilmu adikodrati tersebut, dianggap berguna untuk menghalau serangan ilmu hitam pihak musuh.
“Waktu itu kami diminta membantu. Tugas kami memberikan perlindungan spiritual para anggota pasukan. Termasuk menangkal illmu gaib yang mungkin dipakai para penyandera,” ungkap Sayid Ubaydillah, seturut dikutip Kompas, 9 November 1998.
TNI, termasuk Kopassus, kala itu memang kesulitan menerabas lokasi penculikan di rimba belantara Mapenduma.
Itu lantaran tak memiliki peta daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/bela-diri-kopassus_20180730_094058.jpg)