VIDEO: Mengenal Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Bungo yang Hampir Punah

Bait-bait sastra yang dilantunkan di panggung depan Kantor Camat Rantau Pandan, Selasa siang itu (18/6/2019).

Dialah yang paling berperan melestarikan seni Dideng itu, di Dusun Rantau Pandan. Nenek Jariah mulai kembali mengajarkan seni tutur Dideng pada kawula muda.

Dengan suaranya yang agak parau, Nenek Jariah coba mencapai nada yang tinggi. Diiringi alunan biola, suara Nenek Jariah masih sampai untuk melengkingkan Dideng.

Penampilan itu juga diselingi pewara. Gadis, pewara dalam penampilan itu menceritakan sinopsis singkat menjelang Nenek Jariah melengkingkan suaranya.

Baca: Mahfud MD Sebut Alasan Kenapa Saksi di Perkara MK Tak Perlu Perlindungan LPSK

Baca: Siapakah Amanda Winarko? Pernikahan Super Mewah Putri eks-Komisaris Sampoerna, Suvernirnya Hermes

Baca: Tommy Soeharto Ketemu Tata Cahyani, Mantan Istrinya yang Kini di Amerika, Lihat Ekspresi Keduanya

Baca: Yusril Sebut Saksi 02 Agus Maksum Beri Keterangan Campur Aduk, Simak Penjelasannya!

Dideng menceritakan tentang Puti Dayang Ayu. Konon, ada dua kakak beradik hidup berdua sejak orang tuanya meninggal. Seiring waktu, mereka berpisah. Namun sebelum berpisah, keduanya sepakat akan menjodohkan anak nanti.

Kakak menikah dengan keturunan raja dan memiliki anak tampan bernama Dang Bujang, dan adik menikah dengan rakyat biasa dan memiliki anak bernama Puti Dayang Ayu.

Dang Bujang dan Puti Dayang Ayu menikah kemudian, dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun, Puti Dayang Ayu jatuh sakit dan kemudian meninggal. Dia menjelma menjadi elang. Maka, jika ada elang berbunyi siang hari, konin itu jelmaan Puti Dayang Ayu.

Berdasarkan informasi yang Tribunjambi.com peroleh, tradisi Dideng telah ada sejak ratusan tahun lalu. Alunan Dideng biasanya dilantunkan orang-orang tua untuk menemani anak-anak menganyam pandan, bercerita, hingga bermain. Selain itu, Dideng juga sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan moral dan nasihat pada anak-anak mereka.

Sebagai seni sastra lisan, kidung yang terkandung dalam Dideng memuat pikiran, perasaan, perilaku masyarakat Melayu Jambi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi hingga saat ini.

Kini, seni sastra lisan Dideng hampir punah, dan Nenek Jariah masih memperjuangkan kelestarian seni itu di usianya yang kian renta.

Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved