VIDEO: Mengenal Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Bungo yang Hampir Punah

Bait-bait sastra yang dilantunkan di panggung depan Kantor Camat Rantau Pandan, Selasa siang itu (18/6/2019).

VIDEO: Mengenal Dideng, Seni Sastra Lisan dari Rantau Pandan, Bungo yang Hampir Punah

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Bait-bait yang dilantunkan di panggung depan Kantor Camat Rantau Pandan, Selasa siang itu (18/6/2019). Adalah Dideng, sebuah seni sastra lisan yang hanya terdapat di Dusun Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Bungo.

Seni tutur itu akhirnya direvitalisasi oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Di atas panggung itu, mereka disaksikan langsung oleh Kepala Bidang Pelindungan, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah. Selain itu, mereka juga disaksikan oleh Bupati Bungo, Mashuri beserta jajarannya.

Dideng sendiri dapat diartikan berkabar.

Baca: Sekolah Sempat Disegel, Kepala Sekolah SDN 191 Bukit Kemang Bungo Akhirnya Diberhentikan

Baca: Termakan Rayuan, 5 Kali Anak SD di Merangin Dicabuli Teman Facebook

Baca: Tergiur Upah Rp 5 Juta, Supir Truk Batu Bara Nekat Antar Sabu, Tertangkap di Simpang Rimbo

Baca: VIDEO: Sering Cancel Ojek Online, Siap siap Kena Denda, Segini Besarannya

Seni sastra lisan Dideng itu ditampilkan dua kali. Pertama, diisi oleh sembilan orang anak. Mereka melantunkan bait-bait Dideng diiringi alunan biola nan merdu. Suara mereka melengking, membuat ribuan masyarakat yang berkumpul di sana terfokus memandang mereka. Nada tinggi itu terdengar nyaring nian.

Ternyata, sedikitnya ada empat tujuan kenapa seni Dideng ini direvitalisasi. Melestarikan tradisi Dideng, mewariskan tradisi Dideng kepada generasi muda, memperkenalkan tradisi Dideng kepada generasi muda dan khalayak umum, dan membangkitkan kembali tradisi Dideng yang langka ke hadapan umum. Hal itu dikarenakan Dideng sarat akan pesan moral dan nasihat yang terkandung di dalamnya.

Maka dari itulah, tiga orang tim revitalisasi, Suwanti, Juhriah, dan Sabdanur datang ke dusun itu.

Belum cukup menyaksikan anak-anak melantunkan Dideng, giliran remaja dan orang tua di dusun itu yang kemudian tampil memperdengarkan Dideng di hadapan penonton. Kali ini delapan orang pelantun, seorang pemain biola, dan seorang pewara yang tampil. Tidak lupa, sang mestro pun menunjukkan penampilan terbaiknya.

Adalah Nenek Jariah, perempuan berusia 87 tahun yang masih setia merawat kelestarian Dideng. Dialah yang mendapat gelar maestro Dideng dari Kemendikbud pada 2014 lalu. Nenek Jariah mempelajari langsung Dideng itu dari orang-orang tuanya.

Halaman
12
Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved