Manfaatkan Sekat Kanal, Marbot Masjid di Tanjab Timur Punya Penghasilan Puluhan Juta
Berbekal sekat kanal terbengkalai Sumber (40) warga Desa Sidomukti, berhasil berbudidaya ikan keramba dengan penghasilan hingga puluhan juta.
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Berbekal sekat kanal terbengkalai Sumber (40) warga Desa Sidomukti Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjab Timur, berhasil berbudidaya ikan keramba dengan penghasilan hingga puluhan juta.
Dengan berbekal melihat usaha teman, dalam melakukan pembudidayaan ikan keramba. Subur yang telah menggeluti usaha sejak satu tahun terakhir mulai menikmati hasil.
Bermodal sekat kanal yang tidak berfungsi lagi di pinggiran Masjid tempatnya tinggal, dirinya memgembangkan usaha keramba dengan beberapa jenis ikan. Gurame, Nila dan Lele dengan total 12 kerambah.
Kata Sumber, usaha yang digelutinya itu berawal dari keinginan untuk berwirausaha sekaligus menyalurkan hobi ternak. Dengan melirik budidaya ikan keramba yang ternyata cocok di kawasan rawa.
“Kebetulan di masjid tempat saya tinggal ada sekat kanal yang tidak aktif lagi. Dengan menggunakan kanal tersebut sekarang sudah ada 12 keramba dengan beberapa jenis ikan di dalamnya,” jelasnya.
Baca: Hadapi Lebaran Idul Fitri, Perum Bulog Divre Jambi Siapkan 34 Ton Daging Beku
Baca: Tiga Kurir Ganja dari Aceh Ditangkap BBN Provinsi Jambi, Sekali Antar Diupah Puluhan Juta
Baca: Selama Ramadan, Jam Besuk Napi di Lapas Klas IIB Muara Bulian Dibatasi Hanya 30 Menit
Baca: Lebaran Idul Fitri Stok Daging dan Ayam di Sarolangun Dipastikan Aman, Harga Naik Waktu Pagi
Baca: Istri Sandro Jatuh Pingsan di Samping Keranda, Korban Tertembak Saat Kerusuhan 22 Mei Tiba di Jambi
Diakuinya dengan usaha tersebut dirinya mendapatkan penghasilan hingga puluhan juta, dari ribuan bibit yang disebar. Paling sedikit dapat menghasilkan hitungan pikul dengan nominal hingga puluhan juta.
“Kalo secara nominal memang terbilang besar, namun belum termasuk biaya pakan yang tinggi. Itu yang menjadi masalah utama saat ini,” ujar lelaki yang juga diketahui sebagai Marbot Masjid tersebut.
Untuk pemasaran sendiri tidak ada permasalahan, pasalnya setiap kali panen sudah ada pengepul yang datang untuk mengambil hasil panen. Namun yang menjadi permasalahan saat ini pakan dan hama burung.
Dalam pemasaran, untuk perkilo ikan lele dibanderol Rp 20 ribu, sedangkan untuk ikan Gurame dan Nila memang saat ini belum siap untuk panen. Sehingga masih menunggu waktu untuk mendapatkan hasil.
“Kalo hitung hitungannya dari puluhan juta tadi, bersihnya jauh dari itu. Karena terbentur besarnya biaya pakan tadi,” jelasnya.
Untuk bantuan dari pemerintah sendiri hingga saat ini belum ada, meski pengajuan sudah sering diajukan. Hanya satu yang diharapkan dari pemerintah adanya bantuan mesin pengolah pakan karena itu yang sangat dibutuhkan.
Baca: VIDEO: Jenazah Sandro Korban Kerusuhan di Bawaslu Tiba di Jambi, Sempat Sadar Sebelum Meninggal
Baca: Ini Besaran Zakat Fitrah Sesuai Ajaran Imam Hambali dan Syafii yang Diputuskan Kemenag Kuala Tungkal
Baca: Pedagang Pasar Sengeti Jambi Ngeluh Sepi Pembeli Meski Harga Stabil, Ekonomi Warga Jadi Pemicu
Baca: PPK dan Dua Orang Pekerja Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Jalan Pungut Mudik, Kerinci
Baca: Fatimah Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran, Kue Tradisional Sarolangun Sampai Dikirim ke Malaysia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/24052019_kerambah-ikan.jpg)