Kisah Penembak Jitu Santana, Pria Lugu yang Gara-gara Gadis 13 Tahun Jadi Pembunuh 500 Orang
Walau hanya pernah berburu tikus hutan dan monyet untuk makanan, Santana dikenal sebagai penembak jitu.
“Saya menghabiskan tujuh tahun meyakinkan dia untuk berbicara kepada saya tentang hidupnya," kata Cavalcanti.
“Kami berbicara tentang segalanya dan bukan hanya tentang pekerjaannya. Dia berbicara tentang masa kecilnya, hubungannya dengan orangtuanya dan saudara-saudaranya dan kehidupan yang tenang yang dia jalani di hutan serta drama internal yang dia hadapi ketika dia mulai bekerja sebagai pembunuh bayaran.”
Sementara itu, Santana, yang kini berusia 64 tahun, mengatakan kepada The Post dalam sebuah wawancara melalui e-mail pekan lalu, dia menyukai cara Cavalcanti yang berkisah secara jujur.
Dan sebaliknya, dia tidak menyukai cara film yang mengangkat kisahnya itu tentang menceritakan kisahnya.
“Kisah nyata dalam hidupku jauh lebih sedih daripada apa pun yang bisa kau bayangkan,” katanya.
Setelah pembunuhan pertama itu, paman Santana menawarinya sebagai pembunuh bayaran bagi pemerintah Brasil dalam pertempuran melawan pemberontak komunis di lembah Sungai Araguaia di Amazon.
Dari 1967 hingga 1974, gerakan Araguaia Guerrillas mencoba membangun basis pedesaan untuk menggulingkan kediktatoran militer Brasil, dan merekrut petani dan nelayan untuk tujuan mereka.
Pada awal 1970-an, Santana mendapatkan kontrak pertama dengan tugas melacak perkemahan gerilya.
Dalam satu kasus, dia membantu menangkap militan kiri Jose Genoino, seorang mahasiswa hukum dan salah seorang pemimpin gerilyawan.
Santana menyaksikan dengan ngeri ketika tentara menghabiskan waktu berhari-hari menaruhnya di lokasi rahasia di hutan hujan.
Bertahun-tahun kemudian, Genoino menjadi anggota Kongres dan presiden Partai Buruh yang berhaluan kiri.
Dalam sebuah wawancara dengan Cavalcanti, dia mengingat seorang "bocah" dalam kelompok yang menangkapnya di Amazon.
Santana baru berusia 18 tahun saat itu, dan sebagian dihargai atas pekerjaannya dengan sebotol Coca Cola—minuman favoritnya dan kemewahan yang tidak pernah mampu dijangkau oleh keluarga miskinnya.
Tidak lama setelah penangkapan Geroino, Santana menembak dan membunuh seorang militan komunis lainnya, seorang guru sekolah 22 tahun bernama Maria Lucia Petit.
Postingan Terbaru Ustaz Abdul Somad Bikin Artis Melly Goeslow Tersentak, Langsung Ngucap
Sahabat Nikita Mirzani Ungkap Perlakuan Dipo Latief ke Niki Tak Seperti Anggapan Orang
Mantan Staf Ungkap Banyak Saksi TPS Pendukung Militan Ahok, Diinstruksikan Amankan Suara Jokowi
Viral, Dosen Unpad Curhat Bisa Gila, Gara-gara 6 Kelakuan Mahasiswa Bimbingan Skripsi
VIDEO-Tonton Dua Kesalahan Fatal Van Dijk, Semifinal Leg 1 Kontra Barca, Harus Dibayar Mahal
TERBARU Hasil Real Count KPU Pilpres 2019 Jokowi vs Prabowo, Selisih Melebar
Selama hampir dua dekade, Petit dianggap “menghilang” begitu saja.