Siksa Teroris Dalam Waktu Singkat, Dunia Tertegun Tahu Kopassus Merupakan Elite Berbahaya & Hebat

Siksa Teroris Dalam Waktu Singkat, Dunia Tertegun Tahu Kopassus Merupakan Elite Berbahaya & Hebat

Siksa Teroris Dalam Waktu Singkat, Dunia Tertegun Tahu Kopassus Merupakan Elite Berbahaya & Hebat
Sripoku
Operasi Woyla yang Naikkan Nama Kopassus 

Perlakuan tersebut berlaku juga bagi sandera perempuan.

Bahan bakar pesawat yang kian menipis semakin menambah penderitaan sandera.

Pendingin udara tak aktif karena mesin pesawat dimatikan.

Baca Juga:

Hasil Drawing Perempat Final Piala Presiden 2019 Bakal Dilakukan 19 Maret 2019, Ini Jadwalnya

Swiss-Belhotel Jambi Turut Rayakan HUT Tribun Jambi, Ini Doa Ivan Bakara untuk Tribun

INI Dia Program dan Janji Cawapres Nomor Urut 01 Maruf Amin Saat Debat Cawapres 2019. Lihat Di Sini

Banyak penumpang yang lemas karena kekurangan oksigen.

Pemerintah Thailand memberikan izin kepada pasukan Komando Pasukan Sandhi Yudha (Koppasandha, sekarang dikenal Kopassus) untuk melakukan tindakan.

Pada 1 April 1981, operasi penyelamatan berlangsung singkat namun di balik itu semua persiapan yang dilakukan sudah jauh-jauh hari sebelumnya.

Tidak ada tanda-tanda operasi pembebasan pada 30 Maret 2018, malam hari.

Suasana di sekitar pesawat sepi.

Jenderal Yoga Sugama mengelabui pembajak dengan berpura-pura mengabulkan semua tuntutan mereka pada hari ketiga.

Negosiasi ini hanya siasat mengulur waktu hingga tim antiteror melancarkan aksinya.

Pembajak menari-nari di dalam pesawat setelah dikelabui.

Pergerakan terlihat sekitar pukul 02.30, sekitar 400 meter dari pesawat.

Pasukan bergerak dalam formasi dua baris. Mereka bergerak mengendap dan membawa tiga tangga.

Tangga tersebut dikaitkan pesawat. Dua tangga ada pada masing-masing sayap, satu tangga di bagian belakang.

Dalam sekejap pasukan elite itu masuk ke dalam pesawat.

Ilustrasi Kopassus
Ilustrasi Kopassus 

Mereka masuk dari pintu darurat dan bagian bawah pantat pesawat.

Terdengar suara baku tembak dalam waktu dua detik.

"Komando itu berteriak 'Semua penumpang tiarap'. Dan berjatuhanlah sosok-sosok tubuh yang berusaha untuk tiarap," ujar Henk Siesen, warga negara Belanda yang menjadi sandera.

Kemudian terdengar suara tembakan dari dalam kabin pesawat.

Badan pesawat berlubang akibat tembakan peluru.

Satu per satu sandera yang tiarap diselamatkan melalui pintu depan.

Ada satu pembajak yang ikut tiarap di antara kerumunan sandera.

Ia membawa granat, bahkan granat tersebut sempat dilempar setelah pinnya ditarik.

Namun, granat tersebut tidak meledak dan pembajak itu bisa diamankan pasukan.

Ia ditembak mati setelah berusaha kabur dari pintu depan.

Baca: Besok Putusan Gugatan PAN dan PBB

Baca: Kota Sungai Penuh Belum Memiliki BLK

Seorang pembajak bernama Fahrizal melepaskan tembakan, setelah terdesak ia melakukan bunuh diri dengan menembak keningnya.

Dua pembajak lain yang berusaha kabur ditembak mati.

Operasi penyelamatan penyanderaan 65 jam itu berlangsung tiga menit.

Dua orang menjadi korban. Pilot Herman Rante tewas dalam operasi pembebasan Woyla.

Anggota Koppasandha Achmad Kirang juga gugur dalam operasi tersebut.

Pemimpin pembajak ditangkap dan dihukum mati pada 28 Maret 1983.

Operasi pembebasan Woyla yang berhasil dilakukan oleh Koppasandha menjadi sorotan dunia.

Reputasinya diakui dan kini pasukan yang dikenal dengan nama Kopassus itu dicap sebagai satuan elite top dunia.

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:

IKUTI FANSPAGE TRIBUN JAMBI DI FACEBOOK:

Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved