Satu WNI Meninggal Dunia di Selandia Baru, Menlu Retno Langsung Telfon Istri Lilik 

WNI korban aksi teror di Christchurc, Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid, dipastikan Kepastian tersebut diperoleh sore ini (kemarin) Sabtu(1

Kristian Erdianto
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi 

TRIBUNJAMBI.COM - Kementerian Luar Negeri melalui Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum (PWNI) Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal memastikan WNI Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid menjadi korban atas tragedi biadab, penembakan yang terjadi di dua mesjid di Kota Christchurch, Selandia Baru. Sebelumnya, Lilik tidak diketahui,keberadaannya pasca penembakan yang terjadi Jumat (15/3) waktu setempat.

"WNI korban aksi teror di Christchurc, Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid, dipastikan Kepastian tersebut diperoleh sore ini (kemarin) Sabtu(16/3), dari pengurus Masjid Al Noor, Christchurch," ujar Iqbal.

Iqbal menuturkan, segera setelah memperoleh kepastian tersebut, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menghubungi Nina, istri Almarhum. "Dalam pembicaraan via telepon itu, Menlu Retno menyampaikan ucapan duka cita yang mendalam Pemerintah Indonesia atas meninggalnya almarhum," kata dia.

Menlu Retno juga ujar Iqbal, menyampaikan, pemerintah Indonesia melalui Duta Besar di Wellington, akan memberikan pendampingan dan bantuan yang diperlukan. Sejauh ini dilaporkan terdapat sekitar 7 WNI yang berada di kedua masjid saat peristiwa tersebut, 4 orang telah dinyatakan selamat, 2 orang luka dan saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit dan 1 orang meninggal dunia.

Nama Brenton Harris Tarrant (28) pria asal Australia mendadak terkenal seantero jagat. Namanya dikenal karena dialah pelalu pembantaian 49 jamaah dua masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison kompak mengatakan penembakan mengerikan kemarin sebagai aksi teroris paling brutal di benua Australia.

Mengutip The New Zealand Herald usai dibekuk oleh pihak berwajib Selandia Baru, Brenton langsung dibawa ke pengadilan untuk menjalani sidang. Brenton dikawal menuju ruang sidang dengan penjagaan super ketat dari aparat keamanan Selandia Baru. Masyarakat sekitar datang berbondong-bondong ke Pengadilan Distrik Christchurch.

Ketika melewati kerumunan, warga sekitar meneriakkan hujatan yang ditujukan kepada Brenton. "Apa yang terjadi di sini," katanya kepada wartawan. Pria lainnya berteriak kepada Tarrant, "membusuklah kau di neraka!".

Bahkan ada seorang warga Christchurch membawa pisau dan hendak masuk ke ruang sidang.Ia berniat menikam Brenton sampai mati. Namun petugas segera mengamankan pria tersebut. Sidang perdana Brenton ini sendiri digelar tertutup dan singkat. Hanya media terakreditasi resmi yang boleh masuk ke ruang sidang.

Hakim menyuruh tersangka untuk ditahan sementara waktu sampai sidang berikutnya pada tanggal 5 April 2019. Brenton Harrison Tarrant berasal dari kota Grafton, timur laut New South Wales, Australia.Namun dua tahun belakangan dia tinggal di Dunedin, Selandia Baru. Ketika berada di Australia, Brenton bekerja sebagai pelatih fitness di pusat kebugaran lokal di Grafton dari tahun 2009 hingga 2011. (tribun network)

Editor: awang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved