VIRAL - Ajak Duel Polisi Hingga Sebut Rela Mati, Begini Nasib Enam Pemuda Mabuk Ini?

Ajak duel aparat kepolisian, Enam pemuda harus berurusan dengan Satuan Reskrim Polres Badung, Kamis (21/2) kemarin.

Editor:
zoom-inlihat foto VIRAL - Ajak Duel Polisi Hingga Sebut Rela Mati, Begini Nasib Enam Pemuda Mabuk Ini?
Ilustrasi berkelahi

TRIBUNJAMBI.COM - Ajak duel aparat kepolisian, Enam pemuda harus berurusan Satuan Reskrim Polres Badung, Kamis (21/2) kemarin.

Enam pemuda tersebut menantang duel tiga aparat kepolisian Polres Badung saat melakukan patroli di wilayah Kuta Utara.

Bahkan, beberapa dari mereka sudah siap dengan membawa kayu balok.

Kejadian itu bermula saat jajaran reskrim Polres Badung melakukan patroli Kegiatan Kepolisian Yang Ditingkatkan (K2YD) dalam rangka operasi premanisme, Kamis (21/2) kemarin.

Sekitar pukul 01.30 Wita bertempat di Jalan Muding, Batu Sangiang V/89, Banjar Batu Bidak, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung, dua personil Polres Badung, Aiptu Ismadji dan Aiptu Purwoko, hendak melakukan pengecekan penduduk pendatang, dan mengecek kemungkinan ada penghuni kos yang minum-minuman keras.

Baca: Orang Gotong Royong di Bungo, Ciptakan Lingkungan Bersih di Hari Peduli Sampah Nasional

Baca: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Tolak Kunjungan Sandiaga Uno, Ada Apa?

Baca: Terima Kunker Pengadilan Tinggi Jambi, Bupati Safrial: Butuh Kerja Keras Buka Pemikiran Masyarakat

Saat menegur untuk tidak minum-minuman keras, tiba-tiba penghuni kos yang diketahui bernama Kristoforus Dangga (27) yang saat itu sedang minum tuak langsung tersinggung.

Kedua aparat kepolisian pun menjelaskan identitas serta maksud dan tujuaan mereka.

Pemuda asal Wantubala, Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat, itu tetap tak percaya.

Kristoforus dan sejumlah rekannya lalu menanyakan Surat Perintah Tugas serta Kartu Tanda Anggota (KTA) Polri.

Bahkan saat meminta penjelasan, petugas juga ditarik hingga hampir jatuh.

Ketika aparat kepolisian mengeluarkan KTA, Kristoforus bersama temannya Umbo Domu Ninggeding (31) yang juga berasal dari Sumba mengambil KTA secara paksa.

Namun mereka tetap tidak percaya bahwa dua jajaran reskrim Polres Badung ini adalah anggota Polri.

Selain itu, rekannya yang lain Maksimus Lado (25) yang juga berasal dari Sumba membawa paksa motor milik petugas kepolisian.

Baca: TERKINI Kondisi Ani Yudhoyono Bikin Annisa Pohan Cari Air Zam Zam, Ini 6 Manfaat Mengonsumsi

Baca: Buka Konferensi PGRI 2019-2024, Ini Daftar yang Diharapkan Bupati Bungo

Baca: Ini 22 Tokoh yang Diperkirakan Jadi Menteri Kabinet Prabowo Subianto, Daftar Nama Beredar di Medsos

Motor itu dikendarai dan dibawa menuju ke dalam areal rumah kos mereka.

Dua anggota reskrim Polres Badung pun dikepung oleh pemuda Sumba yang sebagian besar membawa kayu balok.

Merasa situasi ramai dan tidak kondusif, kedua jajaran reskrim Polres Badung pun meminta maaf, serta melaporkan kejadian itu kepada pimpinannya.

Namun beberapa pemuda asal Sumba ini tetap menahan kedua anggota reskrim Polres Badung ini.

Bahkan Kristoforus mendorong Aiptu Ismaji dengan tangannya sambil menunjukkan gerakan seperti mengajak berkelahi.

Tak lama kemudian, Ipda Ferlanda Oktora datang. Saat tiba di lokasi, Kristoforus langsung menghampirinya dan mengkunci leher Ferlanda dengan tangan.

Seketika, Ferlanda yang menjabat sebagai Kanitidik 1 Satreskrim Polres Badung langsung memberikan tembakan peringatan ke atas.

Namun Kristoforus tetap tidak melepaskan kuncian tangannya.

Setelah itu, masa yang ada di seputaran TKP yang mayoritas orang Sumba menjadi lebih beringas.

Bahkan Fardan Teo (29) yang berasal dari Sumba Timur menantang Ipda Ferlanda dengan membawa kayu balok.

Baca: Live beIN Sports 1 Manchester United vs Liverpool, Jadwal Liga Inggris Pekan Ke-27

Baca: Terima 6000 Blangko e-KTP, Segini Jumlah yang Tersisa di Disdukcapil Bungo

Baca: Sah, Jawaban Adik Ahok Fifi Lety Atas Pernikahan BTP dan Puput Nastiti

Suasana pun makin ricuh, hingga Kelian Adat dan Kelian Dinas Banjar Batu Bidak datang, dan melerai keributan tersebut.

Ipda Ferlanda yang dimintai keterangan mengaku saat itu telah menjalankan tugas.

Bahkan saat pemuda Sumba menantangnya, ia sudah berusaha menjelaskan maksud dan tujuannya. Hanya saja dirinya terus ditantang untuk berkelahi.

“Ayo tembak saya! bunuh saya! saya rela mati," ujar Ipda Ferlanda menirukan tantangan Fardan Teo.

Ia mengaku, keributan itu dilerai oleh Kelian Adat dan Kelian Dinas Banjar Batu Bidak.

Pihaknya kemudian memerintahkan keenam pemuda Sumba masuk kekamarnya masing-masing untuk dilakukan pemeriksaan.

"Kami memeriksa semua kamar kos para pemuda itu dan menemukan senjata tajam berupa kapak besi di kamar Maksimus Lado (25) dan juga pisau besar. Selain itu juga mengamankan 2,5 botol minuman keras, kayu-kayu, kapak besi dan senapan," tuturnya.

Kapolres Badung, AKBP Yudith S. Hananta, menyatakan keenam tersangka yakni Maksimus Lado, Alfreth Tupu, Umbo Domu Ninggeding, Kristofonus Gangga, Fardan Teo, dan Derius Hambabamyu kini telah diamankan di Polres Badung.

"Malam itu juga langsung kami amankan, dan kita lakukan proses lebih lanjut," ujarnya.

Ia pun mempertegas jajaran reskrim Polres Badung telah melakukan patroli pada saat itu.

Bahkan personil Polres Badung pada saat melaksanakan patroli K2YD telah dilengkapi dengan surat perintah Kapolres Badung.

"Saat ini kasus ditangani oleh Satreskrim Polres Badung. Terlapor masih diamankan di ruang riksa unit reskrim Polres Badung untuk dimintai keterangan," tungkasnya.

Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Ayo Tembak Saya, Saya Rela Mati! Begini Kronologi Kericuhan 6 Pemuda Tantang 3 Polisi di Kuta , http://bali.tribunnews.com/2019/02/22/ayo-tembak-saya-saya-rela-mati-begini-kronologikericuhan-6-pemuda-tantang-3-polisi-di-kuta?page=all.

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved