Kisah Kolonel Abunjani Sisihkan Uang untuk Sewa Pesawat Catalina (RI 05), Jembatan Yogyakarta-Jambi

Dalam usahanya, Abunjani memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Duanto AS
Tribun Jambi/Mareza Sutan AJ
Pesawat Catalina (RI 05) di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. 

Berawal dari beredarnya berita Proklamasi Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, para pemuda Jambi langsung bergerak cepat dalam menyatakan kemerdekaan Jambi.

Bendera Merah Putih berkibar di Puncak Menara Air.

Sementara itu, prajurit lain menurunkan bendera Jepang (hinomaru) di Kantor Pengadilan Jepang, lalu menaikkan bendera Merah Putih.

Singkatnya, pada 22 Agustus 1945, bendera Merah Putih berkibar di Jambi dan beberapa kota lainnya di Keresidenan Jambi.

"Karier militer Abunjani dimulai pascakemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945, Abunjani merintis terbentuknya Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya, Abunjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abunjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi," tertulis dalam makalah itu.

Namun, dengan adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abunjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel.

Kendati demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.

Dalam karier militernya, peran besar Abunjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10 persen keuntungan untuk perjuangan.

Usaha tersebut, selain dapat membantu perjuangan Pemerintah Pusat, sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan.

Abunjani juga memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditas lada, vanili, karet, dan lain-lain.

15082018_lukisan_abunjani
15082018_lukisan_abunjani (TRIBUN JAMBI/NURLAILIS)

Hal yang tidak kalah penting, kepemimpinan Letnan Kolonel Abunjadi adalah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat serangan Belanda pada 29 Desember 1948.

Bersama dengan Raden Inu Kertapati dan M Kamil mengungsi ke pedalaman, tapi terhenti di Sengeti.

Raden Inu Kertapati kemudian kembali ke Jambi untuk menenangkan keluarga dan masyarakat kota Jambi oleh bombardir pesawat dan serangan tentara Belanda melalui Kenali Asam dan Palmerah.

Pada 1 Januari 1949, terbitlah surat kuasa Residen Jambi, Raden Inu Kertapati, kepada M Kamil, Bupati Jambi Hilir, untuk meneruskan Pemerintahan Darurat Keresidenan Jambi.

Dalam rapat antara unsur pemerintah dan militer di Tebo, didapati keputusan bahwa H Baksan, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jambi Ulu, sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved