Kisah "Hantu" Kebesaran Sir Alex Ferguson, Blunder Guardiola dan Gagalnya Si Tuan Spesial
Upaya ini berakhir dengan cara yang paling aduhai konyolnya. Guardiola gagal menangkap maksud Sir Alex.
Pertarungan sengit Mourinho dan Guardiola yang pernah terjadi saat keduanya melatih Real Madrid dan Barcelona, akan terulang.
Situasi "ngeri-ngeri sedap" yang layak ditunggu.
Namun apa yang kemudian terjadi adalah harapan yang porak-poranda. Tiga tahun ternyata waktu yang terlalu singkat untuk menjaga kestabilan kapal besar peninggalan Sir Alex.
Tiga tahun di tangan Moyes dan van Gaal, keperkasaan jatuh sepenuhnya jadi medioker.
Mourinho bukan tak bekerja keras. Musim pertama dan kedua dihabiskannya untuk membangun skuat. Tentu dengan cara instan.
Mourinho bukan Sir Alex yang begitu sabar memupuk pemain- pemain muda dari akademi. Mourinho adalah seorang pembeli.
Baca: Pertanyaan Kocak Mr Limbad ke Ustaz Abdul Somad, Jawaban UAS Bikin Limbad Geleng-geleng Kepala
Kecuali di Porto, ini yang dilakukannya di semua klub yang dilatihnya.
Berbeda dibanding skuat di Real Madrid, yang dipenuhi pemain berkarakter cepat dan berteknik tinggi, untuk Manchester United, Mourinho ternyata memilih mengadopsi skuatnya di Inter Milan dan Chelsea.
Skuat solid dengan pemain-pemain kuat secara fisik. Ada tujuh pemain yang memiliki tinggi di atas 1,9 meter.
Dengan skuat ini, di musim kedua, Mourinho membawa Manchester United mengakhiri musim 2017-2018 di posisi dua.

Lalu, tibalah musim ketiga. Musim yang selalu jadi momok bagi Jose Mourinho.
Siklus tiga musiman: dua musim cemerlang diekori penurunan di musim ketiga. Dimulai dari Porto, Inter Milan, Real Madrid, pun dua periode di Chelsea (2004-2007 dan 2010-2013).
Apakah manajemen Manchester United terpengaruh pada siklus ini?
Barangkali tidak ada yang bersedia mengakui. Tidak Joel dan Avram Glazer. Tidak juga Ed Woodward. Namun memang ada fakta yang tak dapat dimungkiri.
Berbeda dari musim kedua, belanja pemain Manchester United di musim ketiga Mourinho sungguh mengenaskan.
Sama sekali tidak mencerminkan status sebagai klub terkaya di dunia. Mereka hanya membeli empat pemain kurang terkenal yang dua di antaranya bahkan berposisi penjaga gawang.
Baca: Nikita Mirzani Posting Tanpa Hijab, Banjir Hujatan Netizen, Sampai Sadis Ngomongya
Padahal, klub- klub lain di jajaran lima besar Premier League, semuanya melakukan pembelian besar-besaran.
Manajemen Manchester United beralasan, skuat musim 2017-2018 sudah cukup untuk bersaing.
Keyakinan yang jadi blunder. Manchester United bukan sekadar tercecer di klasemen, lebih jauh mereka juga kalah kelas, terutama dari Manchester City dan Liverpool, dan atas ini, konsekuensinya jelas.
Mourinho, yang memperparah situasi dengan kegagalannya mengatasi persiteruan di kamar ganti, harus angkat kaki. Reputasinya sebagai Tuan Spesial ikut runtuh.
Di lain sisi, ini menguatkan bayang-bayang kebesaran Sir Alex Ferguson. Dalam tiap helaan nafas mereka, para suporter Manchester United, makin sering menggumamkan namanya.
Dia bukan lagi legenda. Seperti lelaki Skotlandia lain yang memberi 13 gelar untuk Manchester United, Sir Matt Busby, bagi mereka, Fergie telah menjelma orang suci.(t agus khaidir)
(*)
Baca: Roger Danuarta Makamkan Ibunya dengan Dikremasi, Apakah Ia Murtad? Ini Jawaban Ustaz Adi Hidayat
Baca: Pertanyaan Kocak Mr Limbad ke Ustaz Abdul Somad, Jawaban UAS Bikin Limbad Geleng-geleng Kepala
TONTON VIDEO TERBARU KAMI FENOMENA ANEH DI BANJARNEGARA, TANDA-TANDA KIAMAT?
IKUTI INSTAGRAM KAMI:
Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Tuan Spesial dan Bayang Kebesaran Sang Legenda