Bukan Lewat Ramalan Zodiak Atau Shio, Lewat Pawukon yang Berasal dari Jawa ini Lebih Tepat & Akurat

Bukan Lewat Ramalan Zodiak Atau Shio, Lewat Pawukon yang Berasal dari Jawa ini Lebih Tepat & Akurat

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Intisari
Pawukon 

Bukan Lewat Ramalan Zodiak Atau Shio, Lewat Pawukon yang Berasal dari Jawa ini Lebih Tepat & Akurat

TRIBUNJAMBI.COM - Percaya akan ramalan zodiak? Sudah pernah diramal dengan model ramlan mana, Barat apa China.

Bila belum pernah dengan Pakuwon, ini merupakan ramalan zodiak asli Indonesia yang berasal dari Jawa, dan disebut-sebut miliki keakuratan yang sangat tepat.

Dibandingkan dengan zodiak Barat dan Cap Ji Shio dari China, horoskop versi Jawa ini memang tidak begitu dikenal.

Padahal, dalam membidik gambaran fisik, watak, dan naas seseorang, Pawukon lebih jitu dan akurat.
Bahkan, mampu memroyeksikan “naas” seseorang di senja hidupnya dengan perlambang watak hari kelahiran orang tersebut.

Baca Juga:

Ramalan Zodiak Hari Ini Senin 17 Desember 2018, Beberapa Bintang Kurang Beruntung, Ada yang Lelah

Ramalan Zodiak Senin (17/12) - Keuangan dan Hari yang Kurang Menyenangkan

Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Desember 2018, Aquarius Hati-hati dengan Godaan, Scorpio Merasa Puas

Percaya atau, perhitungan hari saat dilakukan pemilihan presiden keempat RI pada Rabu Pon, 20 Oktober 1999, menyisakan firasat buruk bagi bangsa Indonesia.

Itu menurut penglihatan dan perhitungan mata hati pakar Pawukon, K.R.H.T. Suhadi Darmodipuro, yang juga kepala Museum Radyapustaka, Surakarta.

Seperti diketahui, pemilihan presiden RI dilakukan siang hari.

“Kalau pemilihan itu dilakukan pada waktu malam hari, akan menghasilkan hal baik. Dalam perhitungan Jawa, Rabu malam itu sudah termasuk Kamis Wage, hari yang baik. Wataknya aras kembang, tunggak semi. Dengan watak aras kembang, artinya siapa pun yang terpilih akan memperoleh simpati dari banyak orang. Demikian pula tunggak semi, meski selalu mendapat kritik atau dilecehkan, tetap akan bertunas dan dengan ketokohannya akan membuahkan hasil baik bagi negara dan bangsa," demikian ujar Darmodipuro.

Kenyataannya, pemilihan dilakukan pada Rabu siang sebelum pukul 18.00 WIB. Hari itu jatuh pada Wuku Watugunung.

Dalam hitungan Jawa, memiliki watak lakuning rembulan, bumi kapetak.

Ramalan zodiak
Ramalan zodiak ((theAsianparent Indonesia))

Meski watak yang pertama itu baik, watak yang kedua yakni bumi kapetak justru mengubur semua kebaikannya.

"Jadi, siapa saja yang terpilih menjadi presiden, kendati memiliki niat dan usaha keras untuk membangun serta menyejahterakan bangsa ini, akan kesilep atau tidak dihargai karena selalu mendapat celaan," tambah Darmodipuro.

Lewat Pawukon perjalanan nasib seseorang juga bisa dibaca dengan jelas.

Contohnya, nasib mantan Presiden Soeharto yang dilahirkan Rabu Kliwon, 8 Juni 1921.

Sesuai hari kelahirannya wuku Pak Harto adalah Maktal.

Gambaran wuku tersebut terjemahan bebasnya begini: Dewanya Bathara Sakri, setia dalam janji, teguh pendiriannya.

Lambang kayunya Negari, tampan wajahnya, bicaranya selalu harum. Burungnya ayam hutan, wataknya cerdik.

Baca Juga:

Indonesia Masuk Dalam Daftar Hari Libur Terbanyak 2019 di Asia Tenggara, Di Atas Singapura

Anjing Nekat Pitbull Terkam Sekuriti, Lihat Majikan Berselisih dengan Penjaga Kompleks

Ternyata Senjata KKB Papua Penuhi Standar NATO, Inilah 4 Jenis & Spesifikasi Perangkat Perang TPNPB

Gedungnya megah dan berumbul-umbul, artinya pangkat dan kekayaan datang secara bersamaan.

Gambaran dirinya bak harimau lapar, kalem tapi waspada, perasaannya gampang kecewa. Naas dirinya karena berkelahi/perseteruan.

Watak hari kelahirannya yang Rabu Kliwon adalah lakuning srengenge, lebu katiyup angin.

Tamsil itu menggambarkan hidupnya yang semula ibarat matahari sebagai pemimpin yang menjadi panutan banyak orang, namun pada akhir nasibnya justru seperti debu yang tertiup angin.

Memang, pada akhirnya kebenaran semua itu tergantung pada kehendak Yang Maha Kuasa.

Lebih komplet dan akurat

Pawukon adalah ilmu tentang wuku yang bersifat baku berdasarkan buku babon yang ada.

Tak berbeda dengan metode hitungan astrologi pada umumnya, wuku ini membagi hari kelahiran seseorang berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran.

Hanya saja Pawukon mendasarkan perhitungannya menurut kalender Jawa.

Wuku dalam bahasa Jawa kuno artinya pekan atau seminggu.

Satu wuku artinya tujuh hari. Karya Pawukon bisa disejajarkan dengan zodiak Barat maupun Cina yang sudah dikenal luas.

Baca Juga:

Gelandang Manchester City Yakin Persaingan Juara Tinggal dengan Liverpool

Gibran Ungkap Sifat Asli Saat Jokowi Saat Sedang Marah, Marahnya Orang Sabar Lebih Menakutkan

Unjuk Rasa Aksi Damai GMPT di Kejari Tebo, Ini Tanggapan Kejaksaan

Cap Ji Shio terbagi atas 12 macam shio dengan pergantian tiap tahun.

Satu periode shio diawali dari tahun pertama yaitu Tahun Tikus yang kemudian berakhir pada tahun kedua belas yakni Tahun Babi.

Sedangkan horoskop Barat terbagi atas 12 bintang, pergantiannya tiap bulan, diawali dengan bintang Capricornus dan diakhiri oleh Sagitarius.

Sementara itu Pawukon terbagi atas 30 macam wuku yang pergantiannya berlaku setiap minggu.
Perhitungannya mulai dari hari Minggu sampai dengan Sabtu. Satu periode Pawukon diawali pada minggu pertama setiap tahun dengan Wuku Shinta, yang kemudian diakhiri pada minggu ketiga puluh dengan Wuku Watugunung.

Urutan dari ke-30 wuku tersebut adalah: Shinta, Landhep, Wukit, Kurantil, Tala, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Mrakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dhukut, Watugunung.

Setiap wuku memayungi kelahiran (manusia) dalam waktu satu pekan atau tujuh hari.

Perhitungan harinya pun disesuaikan dengan pasaran (pon, wage, kliwon, legi, pahing).

Dibandingkan dengan horoskop versi lain, Pawukon memiliki kelebihan. Selain memberi gambaran secara umum untuk mengetahui kondisi fisik, karakter, atau watak seseorang, setiap wuku juga mampu menemukan jenis naas (pengapesan) atau pantangan yang harus dihindari serta proyeksi "nasib" seseorang di masa datang.

Baca Juga:

Ini Jadwal Resmi MotoGP 2019, Dimulai 10 Maret

Korban Hanyut di Sungai Damai, Bisa Sampai ke Sungai Batanghari

Angin Segar Bagi PNS, TNI, Polri Hingga Pensiunan, Kenaikan Gaji 2019, Segini Besarannya

Misalnya, seseorang yang memiliki Wuku Kuiantil pantangannya adalah penekan, yakni kegiatan yang sifatnya panjat-memanjat.

Sedangkan mereka yang berwuku Gumbreg naasnya karena air, Keblabag ing Banyu.

Sesuai usia wuku, masa berlaku pantangan ini pun hanya seminggu.

Artinya, selama waktu itu orang yang bersangkutan sebaiknya menghindari hal-hal yang menjadi pantangannya.

Apakah pengapesan ini bisa menjadi kenyataan? Seorang Bung Karno yang berwuku Wayang ternyata pengapesannya Sebab Kena ing Paeka (cinidra), yakni dikhianati atau diperdaya.

Lintasan sejarah hidup proklamator ini secara jelas telah memberikan jawabannya.

Penggambaran keadaan fisik, karakter, serta sifat-sifat orang dalam setiap wuku disajikan lewat personifikasi simbol seperti dewa, manuk (burung), gedung, panji-panji, pohon, atau kayu.

Sementara naas atau pengapesan seseorang selalu disertakan dalam perlambang sambekala.

Namun tidak seperti icon sederhana yang menandai masing-masing zodiak Barat atau shio Cina, ketigapuluh wuku dalam Pawukon digambarkan secara filosofis dengan ilustrasi menarik, artistik, dan mendetail sesuai ulasan yang terdapat di setiap wuku-nya.

Darmodipuro yakin, tingkat akurasi Pawukon dalam membaca watak dan mengungkap nasib bisa mencapai 70%.

“Sebagian besar klien yang datang ke sini mengaku apa yang tersurat dalam wuku-nya banyak yang cocok," ujar Darmodipuro.

Ada juga satu dua orang mengatakan uraian dalam wuku-nya itu tidak sesuai.

Meskipun begitu, menurut Darmodipuro, reaksi penolakan spontan itu terkesan lebih sebagai perwujudan mekanisme self-defence yang ada dalam diri setiap manusia, ketika sifat-sifat buruknya terungkap.

Masih berkaitan dengan Pawukon, Darmodipuro mengatakan bahwa dalam setiap bulan hampir selalu ada yang disebut hari buruk yang dialami oleh wuku-wuku tertentu dalam perjalanan satu tahun.

Baca Juga:

Sempat Diingatkan Warga, Dua Korban Hanyut Nekat Main di Sungai yang Sedang Deras

Kehadiran Jokowi di Jambi, Rangkap Sebagai Capres dan Presiden, Ini Kata Bawaslu Jambi

Sawit Indonesia Dibarter Ikan Salmon Eropa, Ternyata Begini Asal Muasal Kesepakatan Itu

Hari-hari buruk itu disebut dengan istilah taliwangke dan samparwangke (wangke artinya bangkai).

Menurut kepercayaan Jawa, pada hari itu mereka yang kebetulan wuku-nya terkena taliwangke atau samparwangke, sebaiknya tidak melakukan hal-hal yang berisiko, seperti perjalanan jauh atau membuat keputusan penting yang menyangkut kehidupannya.

Believe it or not, pada tanggal-tanggal yang menurut perhirungan Darmodipuro merupakan hari buruk itu selalu ada peristiwa yang tidak terduga.

Termasuk beberapa petaka yang menimpa bumi ini, seperti musibah Terowongan Mina tahun 1990 yang menewaskan 1.426 orang, jatuh pada hari taliwangke.

Juga meledaknya pesawat Challenger, 28 lanuari 1986, dan terbakarnya Keraton Surakarta, 31 Januari 1985.

Contoh kiwari yang masih hangat adalah, pada 16 Maret 1997 Pak Harto mengambil sumpah Kabinet Reformasi Pembangunan.

Tanggal itu jatuh pada hari taliwangke. Maka yang terjadi kemudian, jalannya pemerintahan amburadul, yang pada akhirnya tumbang dilibas arus reformasi.

Nyaris hilang, padahal universal

Diakui atau tidak, pengetahuan tentang Pawukon serta primbon Jawa ini sebetulnya nyaris terkubur oleh derasnya tren ke-Barat-Barat-an di kalangan masyarakat Jawa.

Apalagi nilai modernitas yang telanjur diserap kalangan muda sering membuat mereka semakin tercerabut dari akar tradisi leluhur.

Hanya lantaran gengsi, semua hal yang berbau tradisional diemohi karena dianggap ndeso dan klenik.

Padahal ketika dihadapkan pada suatu kenyataan hidup yang tidak menenteramkan, diam-diam mereka mencari pegangan psikologis.

Bagaimanapun juga, orang Jawa yang pada dasarnya berakar pada budaya agraris-mistis, termasuk mereka yang sudah hidup di kota-kota besar, akhirnya berpaling juga mengikuti naluri tradisionalnya.

Terbukti, masih banyak orang yang meyakini primbon dan tetap mempertimbangkan petungan Jawa kalau ingin menentukan tanggal perkawinan, pindah rumah, memulai kegiatan bisnis, atau menjalani ritus, sejak kehamilan sampai kelahiran seorang bayi, atau bahkan dalam memilih nama.

Zodiak
Zodiak (inovasee.c)

Untuk menentukan wuku, yang diperlukan adalah tanggal kelahiran sesuai tahun Masehi, kemudian dirujuk dalam penanggalan Jawa.

Dari penanggalan Jawa itu bisa diketahui termasuk wuku apakah hari kelahiran tersebut.

Berangkat dari tanggal tersebut juga bisa dicari hari dan wetonnya untuk menentukan jenis pengapesannya berikut selamatan yang harus dijalani, kalau mau.

Untuk mempermudah pencarian wuku tadi bisa dirujuk pada buku Kalender Abadi yang sudah dijual di .pasaran. Salah satunya, Kalender 301 Tahun (Balai Pustaka, 1989), yang disusun oleh Tjokorda Rai Sudharta, M.A. dkk., bisa digunakan dengan sangat mudah.

Tak diketahui penciptanya

Seperti halnya Cap Ji Shio maupun zodiak Barat, Pawukon pun sampai kini belum diketahui persis asal-usul berikut penciptanya.

Kenyataan ini diperparah oleh kondisi sumber-sumber tulisan penunjang informasi ini yang sudah amat memprihatinkan.

Seperti buku tentang Pawukon terbitan tahun 1850 yang tersimpan di Istana Marigkunegaran, sudah amat rapuh. Buku serupa di Sasono Pustoko, Keraton Kasunanan Surakarta, yang dibuat pada masa Paku Buwono X (1893-1939) kondisinya sedikit lebih baik.

Mitos menceritakan bahwa lahirnya Pawukon diilhami kisah Raja Watugunung, cerita rakyat zaman dulu, yang mengisahkan cinta anak lelaki terhadap ibunya sendiri seperti Oedipus dari Yunani.

Baca Juga:

Lapas Muara Sabak, Usulkan 6 Warga Binaan Dapat Remisi Natal

8 Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik Natal dan Tahun Baru 2019, Cabut Selang Gas

Lapas Muara Sabak, Usulkan 6 Warga Binaan Dapat Remisi Natal

Nama anak-anak yang lahir dari hubungan terlarang inilah yang menandai nama wuku. Ada pun urutan wuku itu disesuaikan dengan janji Dewa kepada Watugunung untuk mengangkat semua anggota keluarganya ke kahyangan.

Untuk mendapat jaminan agar semua diangkat ke kahyangan, Watugunung memilih menunggui anggota keluarganya dulu satu per satu diangkat ke kahyangan, sementara dirinya sendiri memilih yang paling akhir. Itulah sebabnya, Wuku Watugunung berada di urutan terakhir.

Darmodipuro memperkirakan penggunaan Pawukon dalam praktik bernegara dan kehidupan sehari-hari sudah dimulai pada zaman Sultan Agung (1613-1645).

Gelapnya informasi tentang pencipta Pawukon ini sangat mungkin lantaran sifat para pujangga Jawa zaman dulu yang memegang prinsip rendah hati.

Baca Juga : Ngefans kepada Rhoma Irama, Via Vallen Ucapkan Selamat Ulang Tahun Langsung dari Depan Masjid Al Aqsa

"Sifat orang Jawa 'kan tidak mau menonjolkan diri pribadi. Itulah sebabnya banyak karya sastra Jawa yang tidak ketahuan siapa pembuatnya. Sebagai contoh, karya-karya K.R.T. Ronggowarsito tidak ada yang jelas-jelas menuliskan namanya. Kalaupun ada biasanya dibuat sandiasmo (nama rahasia). Itu pun diselipkan secara tersamar ke dalam karya tulisnya sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa membacanya. Saya rasa itu juga yang terjadi dengan karya Pawukon ini," jelasnya.

Telaah yang agak berbeda diberikan oleh Drs. Manu Djojoatmodjo, pakar Jawa kuno dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Selain sulit dilacak, versi Pawukon juga beragam sesuai dengan perbedaan tradisi di mana keyakinan Pawukon itu dianut oleh masyarakat.

Meski pola bakunya sama, bisa jadi Pawukon yang ada di Keraton Surakarta berbeda dengan yang terdapat di Pakualaman, Yogyakarta.

Baca Juga:

Kejari Tebo di Demo, Perwakilan GMPT Sampaikan Orasi, Ini Tuntutannya

VIDEO: Egianus Kogeya yang Brigjen Tapi Terbata-bata, Harus Dipandu Saat Berbicara di Depan Kamera

Hadiri Restorasi Gambut Internasional di Korea, Sekdaprov Jambi, Masuk Rumah Sakit

“Kita sulit melacak penciptanya karena Pawukon itu merupakan wujud kristalisasi persepsi budaya masyarakat Jawa tentang waktu yang meliputi hari, weton, watak manusia, serta pranata mangsa yang selama ratusan tahun menjadi pedoman hidup kesehariannya."

Apalagi, masih menurut Manu, dalam perjalanan waktu terjadi inkulturasi budaya Hindu, yang pada akhirnya juga mempengaruhi persepsi dan praktik budaya Jawa, termasuk dalam hal Pawukon. Itulah sebabnya dalam setiap wuku selalu ada dewa pelindungnya.

Betapa pun Pawukon adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia. Membiarkannya punah sama halnya dengan melupakan sejarah bangsa sendiri. Oleh karena itu menjadi tugas kita semua untuk melestarikannya. (Intisari.grid.id/Moh. Habib Asyhad)

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:

IKUTI JUGA FANSPAGE TRIBUN JAMBI DI FACEBOOK:

Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved