Hidup Keras LB Moerdani, Umur 13 Tahun Serbu Markas Jepang & Jadi Mata-mata Kopassus yang Disegani

Ia merupakan anak ketiga pasangan Raden Gerardus Moerdani Sosrodirdjo dan Jeanne Roech.

Hidup Keras LB Moerdani, Umur 13 Tahun Serbu Markas Jepang & Jadi Mata-mata Kopassus yang Disegani
Ilustrasi Sniper SAS dan Benny Moerdani 

Kemudian, Benny memutuskan untuk mengikuti rombongan orang yang berbaris membawa senjata.

Baca: Ini Kecelakaan Pesawat Paling Fatal, Hilangnya Boeing 777-200 Malaysia Airlines Masih Misteri

Baca: Bukan Passing Grade, Pemerintah Terapkan Sistem Ranking Tes SKD CPNS 2018, Namun Untuk 2 Profesi ini

Benny yang masih duduk di kelas 1 SMP Negeri IV Banjarsari itu menginap di sebuah asrama.

Sekitar enam bulan, ia ikut barisan pemuda tersebut.

Keberadaan Benny belum diketahui ayahnya.

Gerardus Meordani mencari-cari anaknya yang sudah 'menghilang' berbulan-bulan.

Sang ayah menanyai teman-teman Benny mengenai keberadaannya.

Akhirnya, ia bisa menemukan Benny dan membujuknya agar mau pulang.

"Setelah pulang, saya terus masuk Tentara Pelajar, yang waktu itu sudah terbentuk. Enam bulan sekolah, enam bulan dikirim ke front. Begitu terus sampai saya kelas 1 atau 2 SMA," ucap Benny.

Benny Moerdani bergabung di Rayon I Sub Wehrkreise (SWK) 106 Arjuna yang dipimpin Mayor Achmadi.

Bersama pasukan Brigade V/Panembahan Senopati yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi, mereka menyerang Belanda.

Benny Moerdani
Benny Moerdani (istimewa)
Halaman
1234
Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved