Human Interest

Tolak Lakukan Aborsi, Kisah Pilu TKW Indonesia di Hong Kong yang Hamil Diluar Nikah

Seorang pekerja rumah tangga yang berasal dari Indonesia, Annie (bukan nama sebenarny), 42, telah bekerja lebih dari satu dekade

Penulis: Fifi Suryani | Editor: Fifi Suryani
NET
ilustrasi 

Seperti banyak wanita lain dalam posisinya, Annie harus meminta bantuan ke lembaga amal.

"Majikan saya sangat marah dan kaget. Saya ditawari pilihan untuk mendapatkan aborsi di Shenzhen, tapi saya tidak setuju dengan itu," katanya. Agen pekerjaannya membuat saran serupa.

Tak lama sebelum Annie melahirkan bayinya, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, Ia mengatakan, "saya tidak ingin ribut-ribut lagi."

Annie akhirnya menerima bantuan seorang pastor dan keluarganya, yang merawat anaknya selama dua tahun sementara dia menemukan majikan lain dan berjuang di pengadilan agar anaknya dikenali oleh ayahnya.

Setelah melalui persidang dan cobaan hidup yang berat, pengadilan mengabulkan tuntutan Annie. Ayah anak itu setuju untuk memberikan biaya untuk putra mereka, sekaligus memberikan pengakuan padanya sebagai penduduk tetap.

Baca: Janin Sudah Bisa Menangis Sejak dalam Rahim, Kenali Penyebab dan Hal yang Harus Dihindari

Baca: Terlempar dan Menabrak Pembatas Jalan, Pembalap Malaysia Ini Tewas Pascakecelakaan

Baca: Bocah 3 Tahun Diduga Dianiaya Ayahnya, Terungkap Ketika Ibu Datang Menjenguk

Baca: Enam Hari Dilaporkan Hilang, Jasad Wanita 63 Tahun Ditemukan dalam Septic Tank

Anak laki-laki Annie, yang saat ini berusia 4 tahun, telah dibesarkan oleh keluarga lain yang dia temui melalui gereja. Dia bisa menemuinya di hari liburnya, tapi semua itu akan berubah tahun ini.

"Saya menemukan keluarga yang tidak keberatan saya membawa anak itu bersama. Saya akan mulai bekerja untuk mereka di bulan Maret," katanya sambil menyeringai.

Terlepas dari semua kesulitan itu, mata Annie mencerah dan tersenyum melebar saat dia berbicara tentang anaknya. Dia menghitung hari sampai akhirnya dia bisa melihat anaknya tumbuh dewasa setiap hari, sebuah kesempatan yang tidak dimiliki banyak pekerja rumah tangga di Hong Kong.

Bahkan di masa-masa sulit, Annie mengatakan bahwa dia tidak pernah mempertimbangkan untuk menyerahkan anaknya untuk diadopsi.

"Itu bukan pilihan, dia adalah darah dan daging saya sendiri," dia menjelaskan.

"Meskipun kita tidak hidup bersama, kita benar-benar dekat. Terkadang, saat dia merasa khawatir, dia berkata: 'Jangan khawatir, Mummy. Aku akan menjagamu saat aku dewasa.'"

Sumber: Southchina Morning Post

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved