Kisah Jelang Mundurnya Soeharto, Suasana Ruang Tamu Cendara Malam itu. . .
Kisah mundurnya Presiden kedua Indonesia, Soeharto di tahun 1998 ternyata terekam jelas oleh adik dari orang nomor satu di Indonesia itu
Ia tak heran sebab kakaknya itu cukup berpengalaman menghadapi gejolak politik yang diwarnai kekerasan.
Pada saat-saat sensitif itu pula, Probosutedjo melihat beberapa orang di Cendana berdialog.
Di antaranya cendikiawan islam Nurcholis Madjid dan Mensesneg Saadillah Mursyid. 20 Mei 1998 Malam Malam sebelum Soeharto lengser, Probosutedjo kembali ke rumah kakaknya itu sekitar pukul 18.30 WIB.
Malam itu Cendana amat sepi. Namun, Probosutedjo memberanikan diri masuk dan melihat kakaknya bersama putrinya, Siti Hardijanti Rukmana atau biasa dipanggil Mbak Tutut, duduk di ruang tamu.
"Suasana hening dan nampak redup," kata dia.
Baca: Ditangkap di Jakarta, Hendra Akan Sampai di Jambi Nanti Malam
Baca: Prediksi Ramalan Zodiak Mingguan 26 Agustus - 1 September 2018, Rezeki Gemini Saatnya Beli Aset
Ia langsung duduk bergabung dan coba memberikan semangat untuk kakaknya.
Namun, Tutut memintanya untuk tidak lagi berupaya meluruskan keadaan.
Tutut pula, kata dia, yang menyodorkan surat pengunduran diri 14 menteri ke hadapannya.
Saat itu, ungkap Probosutedjo, Tutut mengatakan bahwa ayahnya sudah bulat untuk mundur.
Soeharto begitu terkejut menerima surat pengunduran diri 14 menteri itu.
"Ia sangat kecewa, itu jelas. Ditinggalkan para menterinya adalah pukulan hebat bagi presiden mana pun," kata dia.
Malam itu pula keterkejutan Soeharto tak sampai di situ.

Ia menuturkan, kakaknya itu mengungkapkan, Wakil Presiden BJ Habibie menyatakan bersedia menggantikannya sebagai presiden.
Soeharto mengeluhkan sikap Habibie. Ia tak habis pikir Habibie berubah dalam tempo singkat.
Sebelumnya berdasarkan penuturan Probosutedjo, Habibie menyatakan tak sanggup menjadi presiden.
"Ini membuat kakak saya sangat kecewa. Hari itu juga dia memutuskan untuk tidak mau menegur atau bicara dengan Habibie," ungkapnya.