Kisah Jelang Mundurnya Soeharto, Suasana Ruang Tamu Cendara Malam itu. . .
Kisah mundurnya Presiden kedua Indonesia, Soeharto di tahun 1998 ternyata terekam jelas oleh adik dari orang nomor satu di Indonesia itu
TRIBUNJAMBI.COM - Kisah mundurnya Presiden kedua Indonesia, Soeharto di tahun 1998 ternyata terekam jelas oleh adik dari orang nomor satu di Indonesia itu.
Bahkan satu yang menjadi kenangan tak terlupakan adalah ruang tamu tempat Soeharto terdiam dan berfikir untuk lengser dari jabatannya.
"Saya terus memantau kondisi dan mondar-mandir ke Cendana," ungkap Probosutedjo, adik presiden RI ke-2 Soeharto dalam buku Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto.
Tak banyak yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi di Cendana pada 20 Mei 1998 malam, sehari sebelum Soeharto menanggalkan kekuasaan yang ia genggam 32 tahun lamanya.
Namun, Probosutedjo yang punya akses keluar masuk Cendana menceritakan kondisi di kediaman Pak Harto 20 tahun silam tersebut.
Beberapa hari sebelum 20 Mei 1998, kawasan Cendana dan sekitarnya telah dilindungi oleh barikade pasukan penjaga.
Tak sembarang orang bisa menembus masuk ke Cendana.
Namun, sebagai keluarga Cendana, Probosutedjo merupakan sedikit orang yang bisa melintas kawasan itu dengan mudah.
Beberapa hari jelang menyatakan mundur, Soeharto mengadakan berbagai pertemuan dengan akademisi dan tokoh politk di Cendana, termasuk pimpinan MPR saat itu, Harmoko.
Baca: Ini 4 Fakta Menarik Bambang Hartono, Konglomerat Indonesia yang Raih Medali Emas Asian Games 2018
Baca: Habisi Pemberontak Secara Senyap, Pasukan Elit TNI Gunakan Senjata Maut Suku Dayak
Probosutedjo bahkan sempat menemui kakaknya itu dan berdialog mengenai situasi jelang reformasi.
"Mas, ini nampaknya kondisi sudah mengarah pada reformasi," kata dia.
Soeharto tetap tenang dan manggut-manggut. "Boleh saja berpikir untuk reformasi. Tapi, jangan terpeleset menjadi revolusi," sahut Soeharto.
Dalam pengakuan Probosutedjo, ia bertanya kepada sang kakak apakah bersedia mundur?
Saat itu, ungkapnya, kakaknya itu mengatakan bahwa ia akan menurut mundur jika MPR menghendaki.
Di tengah kondisi yang kian tertekan, diungkapkan Probosutedjo, Soeharto tetap bisa tenang.
