Cara Kopassus ''Masuk'' dan Operasi di Negara Lain, Lebih Dihormati Dibanding Pasukan AS dan Israel

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain ....

Editor: Duanto AS
Ilustrasi Kopassus. (Tribunnews) 

Uniknya, Sintong akhirnya memaksakan diri berjalan tanpa tongkat, begitu Komandan Kopasandha Brigjen Yogie S Memet memerintahkannya memimpin operasi.

Operasi pembebasan sandera Garuda Woyle, sebenarnya merupakan operasi yang rumit karena berlangsung di negara lain dan membutuhkan kerja sama secara diplomatik.

Baca: Pendukung Bersorak Ketika Prabowo Subianto Memanggil Nama Titiek Soeharto yang Juga Mantan Istrinya

Dalam hal ini, kehadiran pasukan Kopassus harus diketahui otoritas negara setempat, demi menghormati kedualatan negara Thailand.

Jika dibandingkan dengan operasi spektakuler pasukan khusus lainnya, seperti pasukan khusus Israel yang pernah sukses membebaskan sandera di Entebe, Uganda. Atau pasukan khusus AS yang sukses membunuh Osma Bin Laden di Pakistan, cara kerja Kopassus di Thailand lebih profesional dan ‘’terhormat’’.

Pasalnya, pasukan Kopassus saat melaksanakan misi pembebasan sandera di Thailand menghargai kedaulatan negara Thailand.

Sedangkan pasukan Israel dalam jumlah besar masuk ke Uganda secara diam-diam dan malah terlibat pertempuran dengan pasukan Uganda. Demikian juga pasukan khusus AS. Ketika masuk wilayah Pakistan untuk menangkap Osama, mereka melakukannya secara diam-diam.

Hal inilah yang mengakibatkan pemerintah Pakistan sampai melancarkan protes.

Dari sisi waktu untuk membesakan sandera, pasukan Kopassus juga lebih baik.

Kopassus yang bisa membebaskan sandera dalam waktu 3 menit pada dini hari 31/3/ 1981.

Hal ini juga terbilang spektakuler karena tidak ada satu pun sandera yang terbunuh.

Penghargaan dunia internasional

Atas prestasi spektakuler itu, media-media internasional seperti The Asian Wall Street Journal pun mendudukkan Kopassus, yang notabene berasal dari negara ketiga, sebagai pasukan khusus terbaik di dunia.

Apalagi jika melihat kenyataan bahwa pasukan yang diturunkan untuk melaksanakan misi pembebasan sandera merupakan pasukan antiteror yang dibentuk secara dadakan. Ditambah lagi, waktu itu dikomandani seorang perwira yang sedang cedera.

Baca: Belum Memiliki Sertifikat, Kepsek SMAN 8 Tanjabtim Kesulitan Kembangkan Sekolah

Maka dengan hanya menggunakan pasukan yang ada saja, operasi antiteror Kopassus bisa sukses.

Apalagi jika menggunakan pasukan antiteror yang sudah terlatih baik dan kebetulan saat itu sedang menjalani Latihan Gabungan ABRI di Ambon, hasilnya pasti akan lebih spektakuler lagi.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved