Mata Merah Mata yang Terangsang, Benarkah?

Siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami mata merah. Misalnya, lantaran kena asap kendaraan bermotor, terkena gas irisan bawang, alergi

Editor: bandot
Intisari
Mata Merah, Mata yang Terangsang 

Mata yang mengalami alergi umumnya memiliki tanda-tanda gatal, berwarna merah, serta kadang keluar bintil-bintil kecil (jika kena alergi debu atau serbuk tanaman). Dibutuhkan tetes mata yang bersifat disensitifikasi atau pencegah cetusan, atau obat tetes antihistamin untuk menghilangkan gejala-gejalanya.

Pengidap TBC, campak, difteria, cacingan dapat juga terserang gejala mata merah. Untuk yang satu ini, tentu tidak akan sembuh begitu saja hanya dengan antibiotik. Penderita harus menyembuhkan dulu penyakit “induk” yang menjadi akar penyebab merahnya mata.

Misalnya, kalau mata merah ternyata bagian dari campak atau cacingan, ya campak dan cacingannya dulu yang harus diberantas tuntas.

Risiko terkena iritasi mata lebih mungkin menyerang mereka yang bekerja di lapangan terbuka. Di sana banyak sekali musuh mata, seperti debu, asap kendaraan bermotor, cairan bahan kimia atau gas, yang siap "merangsang" jika pemiliknya lengah.

Namun jangan khawatir, banyak cara untuk mengantisipasinya. Salah satunya, yang paling praktis, memakai kaca mata pelindung, terutama di tempat-tempat yang dicurigai banyak mengandung polusi.

Bagaimana dengan mereka yang suka berenang? Bukankah sehabis berenang, mata juga sering berubah jadi merah? Versi Raman, gejala yang satu ini tak perlu dirisaukan. Mata akan pulih kembali dengan sendirinya.

Mata menjadi merah umumnya bukan akibat kemasukan bakteri, tetapi karena kaporit pada air kolam renang. Kaporit sendiri justru mengandung antiseptik yang dapat melindungi mata dari berbagai zat berbahaya.

Budaya obat tetes

Masih menurut dr. Raman, mata manusia sebenarnya sudah dilengkapi dengan sistem perlindungan yang sangat baik. Benteng perlindungan pada indera penglihatan ini dari sononya dibuat berlapis-lapis.

Lapisan paling luar dikoordinasikan oleh bulu mata dan alis mata. Sedangkan pertahanan bagian dalam ada pada gerak refleks kedip serta air mata yang dilengkapi susunan kimia tertentu yang tiada tandingannya.

Dengan benteng sekuat itu, iritasi pada mata sejatinya bisa hilang dengan sendirinya alias sembuh secara alamiah. Kecuali pada orang-orang tertentu yang sangat peka atau perasa, daya sembuhnya mungkin akan lebih lama, bahkan kadang perlu diobati atau dibawa ke dokter mata.

Tentang penggunaan obat tetes mata, sebenarnya boleh-boleh saja. Cuma, sebaiknya penggunaannya untuk waktu-waktu tertentu, tidak terus-menerus dan berlarut-larut.

Obat tetes mata, misalnya diperlukan pada saat mata kering atau produksi air mata kurang karena faktor usia, penderita glaukoma (tekanan bola mata yang terlalu tinggi), atau saat terkena infeksi atau alergi.

Sulitnya, mentang-mentang mudah didapat di warung-warung pinggir jalan, kadang obat tetes mata dianggap sebagai “makanan sehari-hari”. Pergi ke mana-mana selalu membekali diri dengan obat tetes mata.

Begitu mata merah, langsung ditetesi dua atau tiga tetes. Iritasi memang hilang tak berbekas, tapi bekas-bekas yang diakibatkan efek sampingannya bisa jauh lebih berbahaya.

Itu sebabnya, untuk sebab-sebab serius, pemakaian obat tetes mata harus atas anjuran dokter, karena yang ada di pasar bebas mengandung zat penyempit atau pengerut pembuluh mata (vaso constriction). Kalau pembuluh darah mengerut, aliran darah bisa terhambat.

Ini sangat berbahaya bagi penderita yang memiliki bakat glaukoma. Jika digunakan secara berlebihan, glaukoma yang semula bersembunyi dapat muncul tiba-tiba menimpa si pemilik mata.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved