Mata Merah Mata yang Terangsang, Benarkah?
Siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami mata merah. Misalnya, lantaran kena asap kendaraan bermotor, terkena gas irisan bawang, alergi
TRIBUNJAMBI.COM - Siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami mata merah. Misalnya, lantaran kena asap kendaraan bermotor, terkena gas irisan bawang, alergi, sampai kelilipan debu.
Menurut dr. Raman R. Saman, dokter mata di Laser Sight Centres Indonesia, Jakarta, iritasi mata terjadi bila indera penglihatan mengalami rangsangan, baik dari dalam maupun luar tubuh. Bentuk rangsangannya beragam, mulai dari benda padat, gas, sampai zat kimia.
“Warna merah muncul di mata sebagai reaksi atas datangnya rangsangan, berupa pembuluh darah yang melebar. Jadi, iritasi itu sesungguhnya usaha tubuh secara alamiah untuk menolak zat yang mengganggu mata,” jelas dr. Raman. Makanya, mata berubah jadi merah.
Menurut dr. Raman R. Saman, meski rata-rata disebabkan rangsangan, penyebab dan kadar keparahan mata merah tak bisa dipukul rata. Pun tidak semuanya bermuara pada iritasi.
Contohnya, sewaktu kita bangun tidur di pagi hari, kadang mata tiba-tiba saja terlihat merah. Namun, semakin beranjak siang merahnya makin luntur. Lagi pula mata tidak sakit.
Mengapa bisa merah? Penjelasannya kira-kira begini. Ketika bertugas, mata membutuhkan pasokan oksigen yang cukup, baik dari luar maupun dari dalam tubuh.
Ketika tidur, mata tidak mendapatkan cukup oksigen dari luar, meskipun tetap mendapatkan pasokan oksigen dari dalam badan. Dengan kata lain, jumlah oksigen yang masuk lebih sedikit.
Agar tidak kekurangan oksigen, mata melakukan antisipasi dengan melebarkan pembuluh darah. Dengan melebarkan pembuluh darah, pasokan oksigen bisa tercukupi, kira-kira sama seperti ketika mata sedang melek.
Makanya, saat bangun tidur, mata terlihat merah. Jika selain merah, mata juga terasa capek dan pedih, cobalah ingat-ingat dengan cermat. Apakah pada malam harinya terlalu lelah bekerja?
Kalau jawabannya ya, tidak ada yang perlu dicemaskan. Dengan cukup istirahat, mata akan kembali normal.
Sebaliknya, kalau merahnya mata diikuti rasa sakit, pedih yang berlangsung sampai tiga hari berturut-turut, misalnya, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Sebelum itu, untuk meredakan sakit mata dapat diberi obat tetes atau salep mata yang mengandung antibiotik.
Gejala kekurangan oksigen yang sangat potensial berubah menjadi iritasi salah satunya adalah lantaran pemakaian lensa kontak yang terus-menerus.
“Secara fisik, bola mata kita sebenarnya berlubang atau berpori-pori, sama seperti kulit,” jelas dr. Saman. Pemakaian lensa kontak terus-menerus, tanpa pernah dilepas dapat membuat mata tak bisa bernapas dengan bebas, karena tertutup rapat oleh lensa kontak.
Jadi, anjuran untuk sesekali melepas lensa kontak, selain bermanfaat untuk perawatan dan menjaga kebersihan lensa kontak, juga agar dapat sejenak membiarkan bola mata mengambil napas dengan bebas.
Pemakai pun dapat sekalian meneliti lensa kontaknya, apakah masih utuh dan tidak kering. Kalau ada yang gempil sedikit saja, bisa melukai mata.
Ada lagi mata merah yang hilang-timbul dalam jangka waktu lama. Gejala seperti itu biasanya disebabkan oleh alergi yang datang dan pergi, serta berlangsung dalam waktu lama.
Kadang disertai rasa gatal yang mereda jika mata tidak “berkomunikasi” dengan debu, angin, atau serbuk pemicu alergi (alergen) lainnya. Untuk menyembuhkan mata merah kambuhan ini, penderita harus dapat melacak faktor pencetus alergi pada bola matanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/10052017-mata-merah_20170510_112630.jpg)