Rabu, 8 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Lacak atau Tanjak, Belajarlah dari Tengkuluk

Namun apapun itu, kiranya perlu belajar dari tengkuluk, penutup kepala wanita Jambi, yang lebih dulu populer.

Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI/EKO PRASETYO
Pascaditutup paksa pada 24 Desember 2016 lalu, Novita Hotel kembali dibuka hari ini, Rabu (18/1/2017). Proses pembukaan dihadiri Gubernur Jambi, Zumi Zola, Walikota Jambi, Komandan Kodim batanghari, Kapolresta serta sejumlah pimpinan organisasi masyarakat. 

Ikat kepala bagi pria Jambi belakangan kian gampang kita temui. Di beragam acara, di berbagai tempat. Mulai dari orang biasa hingga pejabat. Bahkan di dunia maya, foto ikat kepala berbahan batik ini juga ramai diunggah. Ada yang menyebut lacak, ada yang memilih nama tanjak. Lalu?...

Satu diantara yang memilih nama lacak adalah Zainul Bahri (53).

“Sejak saya kecil namanya sudah lacak," sebut pria yang menjadi pembatik sejak era Gubernur Jambi Mascjhun Sofwan, Sabtu (4/2). Ia juga merupakan pembuat lacak dan songket.

Dia mengomentari terkait naiknya tren ikat kepala pria tersebut. Lacak, kata Zainul, sebuah aksesori ikat kepala khas pria Jambi berbahan batik atau bisa juga kain songket.

Pilihannya soal lacak ia sandarkan pada dokumentasi mengenai tari Selampit Delapan. Menurut Zainul, Ceylon yang menciptakan tari tersebut dan pada dokumentasinya ada informasi soal lacak.

"Anaknya pak Ceylon, kemari. Ngomong juga di dokumen bapaknya. Kami Dari Muarojambi, Bulian mengatakan itu lacak," katanya sembari terkekeh.

Baca: Virzha Idol Pede Pakai Tanjak Buatan Anak SLB Kuala Tungkal

Dia juga mendapatkan dokumen tahun 1952 ada informasi orang-orang menggunakan lacak di kepala. Menurut Zainul Bahri ikat kepala tersebut khasnya rumpun Melayu.

Namun, ia mantap mengatakan tetap ada perbedaan dalam lipatannya.

"Kan kita ada namanya payah pucuk rebung," katanya soal jenis ikatan lacak.

Selain karakter lipatannya, bahannya juga dari batik Jambi. Itulah yang menurut Zainul membedakannya dengan tanjak dari Riau atau Palembang.

Pada 1997, Zainul mengatakan pernah bertemu seorang perempuan yang merupakan peneliti dari luar negeri bernama Viona. Saat itu ia sedang di acara Simposium Tekstil Internasional dari 115 negara.

Saat bertemu, Viona bertanya pada Zainul apakah kain-kain kuno yang ada di museum dapat direplika. Sebab tidak mungkin mereka membeli kain kuno itu.

Zainul sendiri saat itu meneliti pewarnaan alam untuk batik.

Bersamaan dengan itu dia mendapat ide untuk membuat replika lacak, yang dimodifikasi dengan warna-warna dan motif batik Jambi.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved