Konsumsi Masyarakat Melemah

Di tengah melambatnya perekonomian global, konsumsi domestik menjadi primadona yang harus

Editor: Fifi Suryani
KONTAN/CHEPPY A. MUKHLIS
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Di tengah melambatnya perekonomian global, konsumsi domestik menjadi primadona yang harus dipertahankan guna mendorong pertumbuhan di dalam negeri.

Indonesia, masih mengandalkan konsumsi rumah tangga untuk mencetak pertumbuhan.

Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 50%.

Namun, ada kekhawatiran adanya ketidaksinambungan konsumsi rumah tangga.

Juda Agung, Direktur Eksekutif Bidang Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI) mengatakan, sebagian masyarakat telah menggunakan tabungannya untuk berbelanja.

"Ini terlihat dari tabungan di bawah Rp 2 miliar trennya terus turun, tapi yang di atas Rp 2 miliar relatif stabil," ujarnya beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mencermati hal tersebut sebelum membuat kebiajakan.

Lana Soelistianingsih, Kepala Ekonom Samuel Asset Management berendapat, tren tersebut muncul sejak Oktober 2015.

Tetapi, menurutnya penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi beberapa waktu lalu bisa membantu masyarakat mengurangi beban konsumsi.

Kegiatan ekonomi yang melambat ditambah inflasi yang meningkat akan menggerus tingkat konsumsi rumah tangga.

Pasalnya, kegiatan ekonomi yang melambat akan mengurangi pendapatan.

Terutama, mereka yang memiliki pekerjaan di sektor informal.

Ketika pendapatan berkurang, maka kebutuhan reguler rumah tangga berpotensi tidak terpenuh.

Sehingga, mereka menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan belanja.

Jika hal ini terus terjadi, maka pertumbuhan ekonomi akan sulit menyentuh angka 5%.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved