Tradisi Balumbo Biduk Sarolangun, Dulu Hadiahnya Minyak Tanah

Tradisi Balumbo Biduk ini pun katanya, sudah ada sejak zaman dulu kala. Dan dilombakan pertama kali di tahun 1960 silam.

Tradisi Balumbo Biduk Sarolangun, Dulu Hadiahnya Minyak Tanah
TRIBUNJAMBI/WAHID NURDIN
ILUSTRASI 

Bagi masyarakat Kabupaten Sarolangun, tak lengkap rasanya jika saat lebaran tak mengikuti atau menikmati Balumbo Biduk. Sebuah lomba perahu yang digelar turun temurun sejak puluhan tahun silam.

Tak peduli panasnya sengatan matahari siang itu. Ribuan manusia tumpah ruah menyesaki kanan kiri sepanjang Sungai Batang Tembesi dan Jembatan Beatrix Brug kawasan Ancol Sarolangun. Suara gong pun terdengar bertalu-talu mengiring derap kayuh puluhan perahu yang bertanding di derasnya arus sungai. Jumlahnya mencapai 38 tim.

Menggunakan dialek Melayu, lomba pacu perahu di Sarolangun dikenal dengan istilah Balumbo Biduk. Lomba ini selalu menyimpan cerita yang tak hilang ditelan waktu dan sudah menjadi tradisi serta merupakan satu warisan sejarah.

Budaya turun temurun itu lekat dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat Sarolangun yang kental dengan agama. Sehingga Balumbo Biduk selalu ada saat menyambut dan menutup Hari Raya Idul Fitri.

Tak hanya telah membudaya, tradisi Balumbo Biduk ada untuk mengenang para pendahulu yang telah berjuang melawan pejajah di Sungai Tembesi dengan menggunakan biduk atau perahu.

"Hingga kini terus dilakukan. Ya, sepertinya menu wajib lebaran. Lebaran gak lengkap kalau Balumbo Biduk gak ada. Dan inilah yang dinanti nanti masyarakat," papar Kepala Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Budparpora) Sarolangun Aslami MZ pada Tribun, usai pembukaan Sarolangun Traditional Canoe, Sabtu (25/7) kemarin.

Tradisi Balumbo Biduk ini pun katanya, sudah ada sejak zaman dulu kala. Dan dilombakan pertama kali di tahun 1960 silam.

"Cuma dulu kan perahunya kecil, paling paling panjangnya sekitar empat meter. Anak dayungnya pun cuma empat orang," terangnya.

Sementara sekarang untuk satu perahu diisi 19 anak dayung dan pengemudi.
"Perahunya juga panjang sampai 18 hingga 20 meter," tambahnya.

Itupun saat ini, di samping memang menjadi warisan budaya, telah menjadi cabang olah raga. Sehingga bila Balumbo Biduk dilakukan ada tiga saripati bisa diambil. "Moment pencarian atlit atlit baru, sekaligus budaya di hari Raya Idul Fitri.Dan menjaga tradisi nenek moyang. Maka Balumbo Biduk terus kita diadakan," ungkapnya.

Mantan Kaban Kesbangpol Sarolangun itu menceritakan, ketika awal tradisi Balumbo Biduk di laksanakan pada era 1960-an, untuk dana maupun perlengkapan kesemuanya bersifat swadaya dari masyarakat.

"Ya, hadiah pun swadaya juga. Hadiahnya hanya berupa minyak tanah dan garam," katanya. Dilihat dari sisi penyelenggaraan, ia mengatakan, dulu perlombaan dimulai dari Kampung Ujung Tanjung dan finishnya di Jembatan Beatrix Brug. Lantaran proses abrasi dan Sungai Batang Tembesi mengalami pendangkalan. Maka alur lomba biduk berpindah lokasi start di mulai dari Beatrix Brug hingga finish Sungai Belati Sarolangun.

Tapi walaupun begitu semangat Balumbo Biduk, terangnya, tak hilang tergerus waktu hingga saat ini. Apalagi sekarang telah dianggarkan lewat APBD Sarolangun.

"Dari sifatnya cuma swadaya antar masyarakat. Dari Rp 60 juta hingga Rp 110 juta dianggarkan tetap di APBD Sarolangun. Kita hari ini (kemarin,red) memperebutkan Piala Gubernur Jambi," ujarnya.
Lewat Balumbo Biduk ini, pesan mencintai lingkungan disampaikan. "Bagimana kita tidak membuang sampah di Sungai, agar tak mengalami kedangkalan," pungkasnya. (mar)

Penulis: qomaruddin
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved