Jambi Heritage

Arti Penting Dua Keris Pusaka Jambi

Dalam sejarahnya Keris Si Ginjei dan Senja Merjaya berperan bukan sebatas senjata tajam semata

IST
Keris Senja Merjaya 

Dalam sejarahnya Keris Si Ginjei dan Senja Merjaya berperan bukan sebatas senjata tajam semata. Ia menjadi simbol pengakuan atas kekuasaan yang berlangsung saat itu. Tatkala keduanya diserahkan kepada kolonial Belanda, apakah ini merupakan sebuah pengakuan atas hegemoni penjajahan Belanda di tanah Jambe?


Kisah yang amat terkenal terkait fungsi keris sebagai senjata ada pada Si Ginjei. Legenda yang hingga kini masih terjaga itu menceritakan bahwa Orang Kayo Hitam mendapatkan Si Ginjei dari empu Supo yang membuatnya.

Konon, si empu mendapatkan pesanan untuk membuat keris Si Ginjei yang kelak akan digunakan untuk membunuh Orang Kayo Hitam. Belakangan, upaya itu gagal.
Naskah berjudul Hal Perkara Kerajaan Jambi”, satu dari sejumlah naskah awal yang menceritakan Si Ginjei. Naskah tersebut ditulis dalam bahasa Belanda dan Melayu Jambi diterbitkan dalam Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG) XLVIII tahun 1906. Catatan yang terdiri dari 29 halaman itu diawali dengan kalimat asalnya negeri Jambi tidak beraja, rajanya di Mataram, mengantarkan hasil 2,5 tahun ke Mataram”.
Isi selanjutnya lebih banyak menceritakan Orang Kayo Hitam berpetualang di Mataram dan mendapatkan keris Si Ginjei yang pembuatannya sangat pelik guna membunuh Orang Kayo Hitam. Orang Kayo Hitam akhirnya diangkat menantu oleh Raja Mataram karena tidak berhasil dibunuh oleh Raja Mataram. Naskah diakhiri hilangnya keris Si Ginjei di Teluk Air Dingin, tapi berkat bantuan Pak Sulung keris dapat ditemukan kembali,” tutur Budi Prihatna dari Museum Perjuangan Rakyat Jambi baru-baru ini.
Budi di tesisnya Pemanfaatan Koleksi Regalia Kesultanan Jambi Guna Penyempurnaan Tata Pameran Tetap Museum Negeri Jambi”, banyak bercerita soal Si Ginjei dan Senja Merjaya. Termasuk arti penting dua regalia yang menjadi koleksi Musuem Nasional tersebut.
Bagi masyarakat Jambi pusaka kerajaan ini selain sebagai simbol perjuangan, juga symbol daerah otonom yang berdasarkan atas cermin gedang nan tak kabur, lantak dalam nan tak goyah, titian teras bertangga batu, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas,” tulis Budi dalam tesisnya.
Seloko yang ditulis Budi itu bermakna sesuatu yang didasarkan kaidah agama Islam yang meliputi Al-Quran, hadits, dan hukum adat. Itu merupakan wawancaranya dengan pelaku sejarah Jambi, H Hasan dan Rd MarjoyoPamuk.
Bahkan, seorang Belanda GJ Velds menyebut penyerahan regalia Kesultanan Jambi berupa keris Si Ginjei dan Senja Merjaya merupakan peristiwa politik besar. Penyerahan regalia Kesultanan Jambi pada pemerintah Hindia Belanda merupakan simbol penyerahan Jambi pada pemerintah Hindia Belanda,” tulis Budi masih di tesisnya.
Keris Si Ginjei sempat berada di tangan Sultan Taha Saifuddin sebelum dipegang oleh Pangeran Prabu Negara. Pangeran Prabu Negara kemudian menyerahkannya ke Belanda.
Keris yang replikanya ada di Museum Perjuangan itu menjadi koleksi Museum Nasional pada November 1904 dengan nomor inventaris 10921 (E 263).Koleksi ini diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada lembaga Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen melalui Gubermenten Besluit No. 7, tanggal 14 Agustus 1904.
Adapun keris Senja Merjaya menjadi koleksi Museum Nasional juga pada November 1904 dengan nomor inventaris 10920 (E 264). Undang-Undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi” menyebut keris Senja Merjaya merupakan keris pemberian Sultan Palembang kepada Pangeran Ratu Anom Martadiningrat sebagai hadiah perkawinannya dengan putri Palembang. (deddy rachmawan)

Penulis: deddy
Editor: deddy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved