Ada Haji Karet, Ada Haji Singapura

Ibadah haji bagi sejumlah orang sudah dimaknai menjadi penunjuk strata sosial. Bukan hanya belakangan saja

Ada Haji Karet, Ada Haji Singapura
Reprp KITLV
Jemaah haji asal Kerinci saat berpose di konsulat Belanda di Jeddah pada tahun 1884. 

TRIBUNJAMBI.COM - Ibadah haji bagi sejumlah orang sudah dimaknai menjadi penunjuk strata sosial. Bukan hanya belakangan saja fenomena ini ditemui. Di masa kolonial motif-motif tersebut juga dibeber dan menelurkan istilah Haji Singapura.

Kisah berhajinya orang Jambi sudah berlangsung sejak lama. Akan tetapi sejauh yang diketahui, belum ada catatan tertulis berupa memoar atau catatan perjalanan mengenai naik hajinya orang-orang Jambi di masa lalu.

Menyebut dari sedikit manuskrip mengenai perjalanan haji di masa lampau, ada Hikayat Hang Tuah yang ditulis abad ke-17. Di naskah tersebut dikisahkan bagaimana Hang Tuah memimpin 42 kapal dan 1.600 orang berlabuh di pelabuhan Jeddah untuk menunaikan satu dari lima rukun Islam tersebut (Kompas, 25 Mei 2014). Yang terlintas dengan fantastisnya angka itu, seakan perjalanan ibadah itu serupa armada perang yang akan melakukan ekspansi jajahan.

Yang lebih dekat ke era sekarang ada buku Indonesia dan Haji di bawah redaksi Dick Douwes dan Nico Kaptain. Buku yang memuat tentang haji dari berbagai penjuru nusantara ini bercerita bagaimana antusiasnya orang Jambi menunaikan ibadah ke tanah suci.

Buku yang merupakan kumpulan berbagai laporan Belanda itu diterbitkan dalam Indonesia Netherlands Cooperations in Islamic Studies (INIS). Mengutip buku itu, sebagaimana dituturkan Via Dicky pegiat Komunitas Peduli Budaya Jambi, bahwa jemaah haji dari Jambi adalah yang terbesar mulai tahun 1890-1925 Masehi. Berada di urutan kedua, Bangka, Palembang dan Sumatera Timur.

Via bilang, pada tahun 1873 para jemaah haji dari Jambi, Brunei, Bali-Ampenan (NTB), Bone, Deli, Langkat, Aceh dan Sulawesi Selatan banyak yang berangkat tanpa paspor atau dengan paspor perseorangan.

"Tahun 1919 banyak jemaah haji berangkat dari Singapura tanpa paspor, namun para jemaah haji dari Jambi dan Kerinci tidak termasuk dalam rombongan ini, meskipun kedua wilayah ini yang terbanyak," paparnya kepada Tribun, Minggu (22/6).

Seperti halnya foto yang dimuat kali ini. Siapa sangka jika foto klasik ini adalah foto jemaah haji asal Kerinci yang dibuat pada 1884. Para jemaah Kerinci tersebut, berpose di Konsulat Belanda di Jeddah. Belanda sendiri membuka konsulatnya di Jeddah pada sekitar tahun 1869 . Konsulat itulah yang berperan dalam mencatat dan mengawasi para jemaah haji yang datang dari Hindia Belanda. Ketakutan akan Pan-Islamisme menjadi alasan Belanda bersusah payah melakukan hal tersebut.

Menariknya perjalanan ibadah jemaah Jambi juga menjadi media penyebaran tanaman. Seperti yang dikisahkan Lindayanty di Jambi dalam Sejarah 1500-1942. Ia menulis, bahwa orang-orang Sumatera yang naik haji melalui Singapura membawa masuk bibit karet.

"Mereka berangkat dan kembali dari Mekah melalui Singapura, karena kota ini merupakan pusat perdagangan dan merupakan pelabuhan penghubung yang menghubungkan Hindia Belanda dengan negara-negara lain. Di Kota ini mereka berkenalan dengan tanaman-tanaman yang sedang laku di pasaran dunia, antara lain karet. Pada saat mereka pulang ke tanah asal, mereka membawa bibit dan pohon karet untuk ditanam," tulisnya.

Memang, haji dan karet ini punya ikatan erat. Haji Jambi bukan hanya membawa karet, tapi pada masa setelahnya karet ini pula yang membawa orang Jambi berhaji. Istilah "hujan emas" yang merujuk pada masa karet menjadi primadona, pada akhirnya turut dirasakan manisnya oleh mereka yang mengusahakan.

Ketika masa keemasan karet tiba, taraf kehidupan masyarakat Jambi meningkat. Itu terlihat dari meningkatnya jumlah pembayaran pajak bumi, jumlah orang Jambi yang naik haji dan meningkatnya jumlah impor barang ke Jambi. Pajak pendapatan dari Pribumi pada 1920 sebanyak 31.560 gulden menjadi 43.180 gulden pada 1924.

Jumlah jemaah Jambi dibanding jumlah penduduk antara 1926-1935 adalah 216 per 100.000 jiwa, dan itu angka tertinggi di Indonesia. "Meskipun banyak menemukan hambatan dalam perjalanan menuju Hijaz dari dahulu hingga kini secara relatif minat bepergian ke Mekah sangat tinggi, meskipun masa tersebut masa peperangan," ujar Via.

Dulu, di masa moda transportasi dan infrastruktur belum semaju sekarang orang berhaji juga ala "backpacker". Ketika memakai kapal layar di tahun 1600-an, waktu tempuh Jambi-Mekah adalah 8-12 bulan. Pada tahun 1800, dengan kapal uap waktu tempuh itu terpangkas menjadi sekitar 6 bulan.

"Menariknya dalam buku Indonesia dan Haji ini, banyak juga haji-hajian," tutur Via yang konsen dengan sejarah dan budaya Jambi.

Ia menyampaikan, ada semacam laporan dari Singapura, bahwa (sejumlah) orang Jambi, Palembang dan Bangka pergi berduyun-duyun ke Singapura untuk mendapatkan sertifikat haji. "Mereka dari daerah, seolah-olah pergi berhaji. Lalu tiba di Singapura. Dan berdiam di sana sekira satu atau dua tahun. Kemudian membeli pakaian haji, dan oleh-oleh berupa apa saja yang mencerminkan orang yang sudah pernah ke Mekah membawa air zam-zam yang dibeli di Singapura. Pemerintah kolonial, akhirnya mengetahui hal ini dan menyebutnya Haji Singapura," tandas Via.

Penulis: deddy
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved