Pernah Diminta Siapkan 9 Kursi Darurat saat Tengah Malam,untuk Pasien TNI Korban Baku Tembak di Aceh
Pernah Diminta Siapkan 9 Kursi Darurat saat Tengah Malam, untuk Pasien TNI Korban Baku Tembak di Aceh
Penulis: Fitri Amalia | Editor: Deni Satria Budi
Pernah Diminta Siapkan 9 Kursi Darurat saat Tengah Malam, untuk Pasien TNI Korban Baku Tembak di Aceh
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tiap pekerjaan tentunya memiliki tantangan dan permasalahan berbeda-beda yang mesti dihadapi. Tentunya kita sebagai bagian dalam pekerjaan tersebut, harus bisa menyelesaikan masalah, terutama jika dalam kondisi darurat.
Jufriandi, Sales & Service Manager Garuda Indonesia, pria kelahiran 3 Februari 1977 ini pernah menghadapi situasi darurat selama ia berkarir di maskapai Garuda Indonesia.
Ia tidak pernah menyangka akan berkarier di maskapai penerbangan plat merah ini sebelumnya.
Baca: Pramugari Garuda Indonesia Pacaran dengan Anggota Kopassus, Sang Pria Hampir Lupa Menikah
Baca: Pengusah Jambi Paut Sakarin Bantah Diperiksa KPK, Sempat Menolak Diambil Foto oleh Wartawan
Baca: VIDEO: Viral, Beredar Foto Anggota TNI Tidur Diatas Pohon, Berpakaian Dinas Lengkap
Jufriandi bergabung di Garuda Indonesia saat masih di Banda Aceh. Ia merupakan salah satu alumni Tarbiyah Bahasa Inggris di UIN Ar- Raniry Banda Aceh. Ia bergabung dengan Garuda Indonesia pada tahun 2001 sebagai tenaga honorer.
Sebelum diangkat menjadi karyawan tetap, ia dengan sabar menjalani outsourcing selama tujuh tahun. Berbekal disipilin, keuletan dan kesabaran, akhirnya beliau diangkat resmi sebagai karyawan tetap pada tahun 2007.
"Hampir menyerah, saya sudah menganggap bukan rezeki saya bekerja di Garuda, karena selama tujuh tahun tidak ada perubahan status. Almarhum Bapak Muhammad Jakfar lah yang saat itu menjabat sebagai Manager Sales and Marketing selalu memberikan motivasi untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya saat yang mengubah jalan hidup saya itu datang,“ kenang nya.

Beliau pertama sekali ditugaskan keluar Aceh pada tahun 2015, yaitu diberikan sebagai amanah sebagai supervisor sales di Pangkal Pinang Provinsi Babel.
"Pertama kalinya keluar Aceh, 8 bulan saya di sana, kemudian dipercaya untuk membantu Garuda Indonesia Cabang Palembang. Kebetulan di Palembang hanya 5 bulang dan akhirnya sampailah saya di Jambi," ceritanya.
Ada pengalaman yang menarik yang pernah ia rasakan saat bertugas semasa konflik di Banda Aceh.
Baca: TNI Selidiki Kejanggalan Mobil Dinas Plat Militer 3005-00 di Acara Relawan Prabowo - Sandiaga Uno
Baca: 1.600 Tamu Hotel Jadi Korban Kamera Misterius di Kamar, Videonya Beredar di Website Dewasa Berbayar
Baca: VIDEO Otomotif: Motor Custom Toni Basro Pal Merah Jambi, Sulap Motor Jadi Lebih Gahar
Ia pernah mendapat telpon darurat pada tengah malam yang meminta untuk menyiapkan sembilan kursi pesawat, yang diperuntukan untuk stretcher membawa pasien dari temen-temen aparat TNI korban baku tembak, dan harus segera di rujuk ke salah satu RS di Medan.
Kebetulan tempat duduk sudah fully booked, bisa dibayangkan penerbangan Cuma sekali sehari, dan semua seat sold out. Tentunya permintaan dadakan tersebut membuat ia dan kru bingung, sementara pasien tidak bisa menunggu, karena keadaan darurat.
Baca: Mabes TNI Angkat Bicara Soal Mobil Dinas TNI Aktif yang Bawa Bingkisan di Acara Prabowo-Sandi
Baca: Indra, The Rain, Konser di Bungo Sosialisasikan Pemilu, KPU Larang Warga Bawa Atribut Peserta Pemilu
Baca: BRI dan Polda Jambi Gelar Perjanjian Kerjasama Dalam Peningkatan Pelayanan Masyarakat
Karena semua kursi telah terisi, terpaksa ia harus minta bantuan dan pengertian penumpang yang sudah mempunyai ticket, dengan cara ditelpon satu-persatu dan menjelaskan kepada mereka kondisi saat itu, tentunya dengan SOP yang sudah di tetapkan oleh perusahaan.
Alhamdulillah, karena kerja ikhlas dan niat menolong sesame yang lagi membutuhkan, semua dimudahkan oleh Allah SWT, kenangnya.
Ia juga pernah menghadapi costumer yang terbilang lain dari pada yang lain karena keadaan yang mendesak, ia menghadapi customer yang terbilang over temperamen.