Jejak 8 Jenderal Nahas Ditemukan Sarwo Edhie Lewat Cerita Sosok Polisi Ini, Soeharto Turun Tangan
Ketika membicarakan upaya memberantas Gerakan 30 September, peran Sarwo Edhie Wibowo tidak bisa dikesampingkan.
TRIBUNJAMBI.COM – Peristiwa pembunuhan 8 jenderal oleh pemberontak Gerakan 30 September sungguh membekas dipikiran para pejuang hingga penerus bangsa.
Ketika membicarakan upaya memberantas Gerakan 30 September, peran Sarwo Edhie Wibowo tidak bisa dikesampingkan.
Dikutip TribunJambi.com melalui Majalah HAI yang pernah menurunkan artikel tentang sosok mertua Susilo Bambang Yudhoyono itu saat menumpas pemberontakan Gerakan 30 September.
Berikut ini tulisan Detik-detik 1 Oktober 1965 yang ditulis oleh Lili dan dimuat di Majalah HAI edisi no. 37/IX Oktober 1985
Kisah-kisah mengenai hari bersejarah, 1 Oktober 1965, sudah banyak dibaca, didengar maupun dilihat orang.
Melalui buku-buku, cerita dari para saksi mata, dan puncaknya — mungkin — melalui film panjang Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Tetapi tokoh hidup masih menarik untuk dimintai keterangan.
Baca Juga:
Budiman Bikin Jan Enthes vs Hidayat Nurwahid di Twitter, Bikin Ramai Netizen
Acara Zikir dan Doa Bersama, Ihsan Yunus Anggota DPR RI PDI P Dapil Jambi Sampaikan Wasiat Abu Bakar
Jadwal Liga Inggris Malam Ini! Duo Manchester Main, Tayang di RCTI dan beIN Sport di Pukul Berikut
Info Lowongan Kerja Universitas Gajah Mada Membuka Seleksi Penerimaan Tenaga Kependidikan Tetap
Kalau sudah begini, akan terfokus kepada figur Sarwo Edhie Wibowo yang ketika meletusnya G 30 S tahun 1965 menjabat sebagai Komandan RPKAD (sekarang Kopasus), sebuah pasukan yang berdiri paling depan dalam menumpas gerombolan komunis itu.
Peristiwa ini memang sudah lama terjadi, tapi Pak Sarwo, begitu panggilan akrabnya, masih ingat adegan peradegan ketika ia masih memimpin pasukan memberantas PKI.
Terutama peristiwa di hari 1 Oktober 1965. Kenangan ini oleh Pak Sarwo diibaratkan sebagai suatu tonggak bersejarah, baik oleh dirinya maupun oleh bangsa dan negara.
Cilllitan
Ketika bergejolak Gerakan 30 September, Pak Sarwo masih berpangkat Kolonel. Pangkat itu menurutnya sebagai jenjang pangkat yang terpendek. Karena setahun kemudian, ia menjadi Brigadir Jendral.
Tengah malam (tanggal 1 Oktober), Sarwo Edhie mendapat perintah untuk menyerbu Halim Perdana Kusuma.
Perintah itu datang dari Pak Harto, dan didapat di kantor KOSTRAD, di mana waktu itu Pak Nasution hadir juga.
Dipilih waktu malam atau tepatnya menjelang dinihari menuju Halim adalah untuk menghindari jatuhnya korban.