Jejak 8 Jenderal Nahas Ditemukan Sarwo Edhie Lewat Cerita Sosok Polisi Ini, Soeharto Turun Tangan
Ketika membicarakan upaya memberantas Gerakan 30 September, peran Sarwo Edhie Wibowo tidak bisa dikesampingkan.
Pasukan ke Halim ini dipecahkan menjadi dua poros. Dari arah timur bergerak lima tim RPKAD dengan satu kompi panser.
Sedangkan satu lagi dari arah Cawang bergerak batalyon Raider yang diperkuat 22 buah tank. Kesemuanya ini di bawah komando Sarwo Edhie.
Sampai di daerah Halim, matahari hampir muncul, sehingga pelaksanaan penyerangan menjadi tergesa-gesa. Ada panser yang nyasar masuk ke Halim lebih dulu dan sebagainya.

Salah satu tujuan penyerangan ke Halim ini adalah untuk mencari para jenderal yang diculik.
Namun setelah Halim berhasil diduduki, nasib para jenderal belum diketahui. Ketika itu Pak Sarwo mendapat informasi bahwa Pak Harto diminta menghadap Presiden Sukarno di Bogor.
"Karena tugas ke Halim adalah atas perintah Pak Harto, maka saya pun menyusul beliau ke Bogor. Dalam arti sebelum Pak Harto berjumpa dengan Bung Karno, akan saya laporkan perkembangan Halim kepada beliau.
Namun ternyata di Istana Bogor saya tidak berhasil menjumpai Pak Harto, karena beliau belum datang. Saya kembali ke Halim dan kemudian melanjutkan perjalanan ke KOSTRAD. Pada saat itu KOSTRAD sudah kosong dan sudah pindah ke Senayan.
Ternyata Pak Harto sudah menuju Bogor melalui darat, sedangkan saya mempergunakan helikopter. Hal ini saya laporkan kepada Pak Nasution dan Pak Sarbini yang berada di KOSTRAD Senayan waktu itu."
Info Lowongan Kerja Universitas Gajah Mada Membuka Seleksi Penerimaan Tenaga Kependidikan Tetap
Hanya 15 Detik Mayor Jenderal Suhartono Jatuhkan Belasan Sasaran, Aksi Menembak Komandan Marinir TNI
Potret BTP Ngumpul Bareng Keluarga, Kemana Puput Nastiti Devi? Ekspresi Anaknya Jadi Sorotan
UPDATE Pendaftaran SNMPTN 2019 Dibuka Besok, Jadwal, Cara Login Snmptn.ac.id Unggah Foto dan Syarat
Namun akhirnya Sarwo Edhie berhasil juga menjumpai Pak Harto, meski ia harus mencegat rombongan Pak Harto di tengah jalan, ketika Pak Harto pulang dari Bogor, tepatnya di daerah Cililitan Jakarta Timur.
Jasa anggota Polisi
Pak Sarwo menyebutkan, jasa yang amat besar dalam menemukan areal penculikan para jenderal sebenarnya berada dalam diri seorang polisi.
Peristiwa itu terjadi setelah pasukannya berhasil menduduki Halim.
Di rumah Pak Sarwo ada tamu seorang anggota intel Kostrad bernama Sukitman, anggota polisi berstatus 'agen'.
Polisi ini menceritakan bahwa ketika lewat di suatu tempat, dia ditahan oleh gerombolan G 30 S.
Dia dianggap membahayakan. Ketika terjadi tembak menembak antara pasukan Sarwo Edhie dengan anggota raider yang memihak G 30 S, Sukitman pun berusaha meloloskan diri dan berhasil.
