Aksi 'Gokil' Pierre Tendean, Letda TNI dengan Paras Bule yang Bisa Susupi Malaysia dengan Bebas

Namun siapa sangka, Pierre Tendean yang merupakan Letnan Dua Czi tersebut pernah punya kisah heroik sebagai anggota TNI.

Penulis: Andreas Eko Prasetyo | Editor: Andreas Eko Prasetyo
Kolase/Ist
Pierre Tendean 

TRIBUNJAMBI.COM - Mengenang sosok Andreas Pierre Tendean, perwira menengah TNI yang namanya dijadikan sosok pahlawan Indonesia karena perjuangannya.

Ya, bila mendengar nama Pierre Tendean, pasti teringat tragedi berdarah G30 S PKI.

Pierre Tendean menjadi korban pembunuhan oleh kelompok pemberontak atau kini disebut kelompok komunis Indonesia.

Namun siapa sangka, Pierre Tendean yang merupakan Letnan Dua Czi tersebut pernah punya kisah heroik sebagai anggota TNI.

Baca Juga:

Menguak Keberadaan Pasukan Harimau, Rajanya Pasukan Khusus yang Disebut Lebih Hebat dari Kopassus

10 Situs Download Drama Korea Subtitle Indonesia Terlengkap dan Terbaru 2019, Bisa Jadi Referensi

Kekejaman Tentara Jepang di Hindia Belanda, Mulai dari Buang Belanda ke Laut Hingga Pelacuran Paksa

Jangan Sepelekan Hal ini, Terlalu Banyak Berhubungan badan Bisa Bikin Sulit Hamil

Pierre Tendean mendapat titah secara langsung oleh Soekarno saat Indonesia sedang geram sekali dengan Malaysia.

Kala itu terjadi aksi demonstrasi oleh masyarakat Malaysia yang anti-Indonesia.

Mereka menggeruduk KBRI, merobek foto Soekarno, serta menuntut Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman untuk menginjak-injak lambang negara Indonesia, yaitu Garuda.

Melihat dan mengetahui itu, pimpinan tertinggi Indonesia, yaitu Soekarno berang sekali.

Bung Karno
Bung Karno 

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia.

Sepucuk surat perintah diterima Letnan Dua Czi Andreas Pierre Tendean tahun 1963 di Medan, Sumatera Utara.

Isinya perintah untuk mengikuti pendidikan intelijen di Bogor.

Padahal belum setahun perwira muda ini menjabat komandan peleton di batalyon Zeni Kodam II Sumatera Utara. Tapi negara membutuhkannya.

Kondisi saat itu sedang panas. Presiden Soekarno baru saja menggelorakan perlawanan untuk menentang berdirinya negara Malaysia.

Soekarno menilai Federasi Malaysia hanya negara boneka Inggris dan neo-kolonialisme.

Lettu Pierre Tendean (KOMPAS.COM)

Dia khawatir negeri jiran itu akan dijadikan pangkalan militer asing Asia Tenggara.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved