Kasus Gajah di Sumay, Andreas: Penghalauan Gajah Berisiko Tinggi Jaga Jarak Minimal 50 Meter

Kecamatan Sumay merupakan salah satu daerah dengan tingkat KMG yang tinggi. Beberapa desa di kecamatan ini masuk dalam area jelajah gajah sumatera

Kasus Gajah di Sumay, Andreas: Penghalauan Gajah Berisiko Tinggi Jaga Jarak Minimal 50 Meter
(KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak milik Elephant Response Unit di kamp Tegal Yoso, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Sabtu (29/8/2017). Gajah-gajah jinak milik Elephant Response Unit dilatih untuk digunakan mengatasi konflik gajah liar dengan warga di sekitar kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas. 

TRIBUNJAMBI.COM - Peristiwa warga yang konflik dengan gajah di Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, mendapat tanggapan pemerhati satwa gajah.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait peristiwa tersebut.

Ketua Yayasan Konservasi Satwa Liar Indonesia (YKSLI), L Andreas Sarwono, mengatakan berita korban terluka karena terinjak gajah harus diklarifikasi kembali.

"Karena dengan berat gajah sumatera dewasa rata-rata 4 ton, maka bila terinjak di bagian kepala mestinya berakibat sangat fatal," tuturnya, Jumat (25/1/2019).

Insiden yang mengakibatkan jatuh korban saat melakukan penggiringan/penghaluan gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh sangat disayangkan.

Data YKSLI, insiden ini merupakan insiden kedua dalam setahun terakhir. Pada bulan April 2018 seorang warga mengalami luka serius saat menangani konflik gajah di Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo.

Kecamatan Sumay merupakan salah satu daerah dengan tingkat KMG yang tinggi. Beberapa desa di kecamatan ini masuk dalam area jelajah gajah sumatera kantong populasi Bukit Tigapuluh. Luas jelajahnya mencapai 350.000 hektare yang meliputi dua provinsi, yakni Jambi dan Riau.

Seluruh areal jelajah gajah berada daerah dataran rendah di luar kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh sehingga rentan untuk dialihfungsikan

Andreas mengatakan saat habitat alami gajah tersebut hanya tersisa 20 persen yang masih berupa blok hutan utuh dan itupun masih terancam oleh pembalakan liar dan perambahan.

"Konflik dengan manusia menjadi konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Warga sebaiknya tidak membeli atau membuka kebun di areal jelajah gajah," ujarnya.

Penanganan konflik manusia-gajah (KMG) seperti penjagaan kebun, penghalauan, dan penggiringan gajah memiliki risiko yang sangat tinggi.

Warga diimbau selalu hati-hati dalam melakukannnya. Karena berisiko tinggi maka penanganan KMG juga sebaiknya dilakukan secara berkelompok dan terpadu, jangan melakukan sendirian atau terpisah dengan warga lainnya.

Menurutnya, dalam penggiringan, warga harus menjaga jarak dengan aman, minimal 50 meter. Gajah dengan badannya yang besar juga dapat berlari kencang walaupun dalam jarak yang relatif pendek.

"Ketika berlari gajah juga mampu menerjang berbagai rintagan seperti semak-semak, ranting, atau tumbangan pohon," ujar Andreas.

Baca: Abdullah Diinjak Gajah di Desa Semambu, Ketinggalan saat Rombongan Berusaha Naik ke Ketinggian

Baca: Setahun, Tercatat Ada 346 Kasus, Konflik Manusia dengan Gajah di Jambi

Baca: Pengawal Presiden hanya Bisa Saling Lirik, Siapa yang Menyangka Mobil Presiden RI Bisa Mogok

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved