Setiap Tahun Quota Gas 3 Kg di Tanjabtim Bertambah, Tapi 'Barangnya' Malah Sulit Didapat

Kemudian pada 2018 dari quota sebanyak 1.830.333 tabung, saat ini sudah terlealisasi sekitar 1.807.712 tabung.

Setiap Tahun Quota Gas 3 Kg di Tanjabtim Bertambah, Tapi 'Barangnya' Malah Sulit Didapat
tribunjambi/zulkifli
Warga di Tanjabtim, mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas 3 Kg 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Zulkifli

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Persoalan LPG 3 Kg bersubsidi di Kabupaten Tanjabtim, seakan tidak pernah terpecahkan. Sulitnya mendapatkan tabung melon menjadi persoalan utama. Padahal setiap tahunnya quota LPG 3 Kg di Kabupaten Tanjabtim selalu bertambah.

Berdasarkan data yang ada di Bagian SDA Setda Tanjabtim, pada 2017 lalu realisasi LPG bersubsidi yang disalurkan ke Kabupaten Tanjabtim mencapai 1,799.333 tabung. Kemudian pada 2018 dari quota sebanyak 1.830.333 tabung, saat ini sudah terlealisasi sekitar 1.807.712 tabung.

Namun sayangnya quota tersebut, terkesan belum dapat memenuhi kebutuhan LPG 3 Kg. Hal ini dibuktikan masih sulitnya mendapatkan tabung melon, bahkan sejumlah masyarakat pun masih rela mengeluarkan kocek ekstra diatas HET demi mendapatkan tabung melon.

Baca: 2019, Nilai DAK di Dinas PUPR Tanjabtim Turun, Ini Rencana Peruntukkannya

Baca: Kisah Kelam Operasi Terbesar Tentara Indonesia di Timor Timur, Saksi Hidup Ingat Kekerasan

Baca: Baru Dibangun, Jalan Rabat Beton di Lorong Flamboyan, Mendalo Indah Sudah Rusak

“Kalau di pangkalan itu tidak sampai setengah jam pasti sudah habis, sementara kalau beli toko kelontong tentunya harus mengeluarkan uang lebih karena harganya diatas HET,” keluh Herlinawati, seorang pedagang kue di Kecamatan Muarasabak Barat, yang setiap tiga hari membutuhkan satu LPG 3 Kg, minggu (23/12/2018).

Begitu juga dengan masyarakat atau rumah tangga, yang hampir setiap pekan atau dua minggu sekali harus bergerilya mencari tabung melon.

“Pernah saya mencari tabung gas sampai ke Kecamatan Geragai, saking sulitnya mendapatkan tabung gas,” kata Sutiani, salah seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Kecamatan Muarasabak Barat.

Terkait persoalan ini, Bagian Kabag SDA Setda Tanjabtim Dedi saat dikonfirmasi belum lama ini mengatakan, satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan LPG bersubsidi yakni dengan mengajukan quota LPG itu sendiri ke pihak Pertamina.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukannya, kebutuhan LPG 3 Kg setiap tahunnya memang selalu meningkat. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya usaha dan industri kecil menengah, yang tentunya membutuhkan pasokan tabung melon lebih banyak ketimbang rumah tangga miskin.

“Tahun 2019, kita akan mencoba mengajukan penambahan quota sebanyak 2.136.084 tabung. Mudah-mudahan usulan ini dipenuhi, sehingga dapat mengatasi persoalan LPG 3 Kg yang terjadi saat ini,” harap Dedi.

Pemkab pun berharap kepada masyarakat mampu dan ASN, untuk tidak menggunakan LPG 3 Kg. Sehingga masyarakat miskin, dan usaha serta industri kecil menengah, dapat menikmati subsidi yang diberikan pemerintah.

“Harus ada kesadaran dari masyarakat, kalau mampu hendaknya tidak menggunakan LPG bersubsidi,” tandasnya.(*)

Baca: VIDEO: Detik-detik Evakuasi Bocah 5 Tahun Terjebak 11 Jam di Reruntuhan Bangunan Akibat Tsunami

Baca: Bani, Bassist Seventeen Jadi Korban Tsunami, Sempat Ingin Berhenti Bermusik dan Mulai Bisnis

Baca: Ditambah 8,8 Persen, Pemkab Batanghari Ajukan Penambahan Kuota Gas 3 Kg

Penulis: Zulkifli
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved