Harga Terus Merosot, Produksi Karet di Batanghari Tidak Maksimal
Terhitung produkifitasnya perkilo dalam pertahunnya sebesar 943 kilo per hektar pertahun, dari jumlah petani 38 ribuan KK.
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Deni Satria Budi
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Abdullah Usman
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Harga karet di Kabupaten Batanghari tidak kunjung berubah membaik, dan berdampak pada produktifitas karet itu sendiri. Berdasarkan data tahun 2017 dinas perkebunan sebut produksi karet terbilang wajar.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan dan Perternakan Kabupaten Batanghari, mencatat dari luas tanam karet produktif di Batanghari mencapai 78.758 hektare dengan luasan tersebut dalam setahun hanya mampu menghasilkan sekitar 74,230 ton karet.
Terhitung produkifitasnya perkilo dalam pertahunnya sebesar 943 kilo per hektar pertahun, dari jumlah petani 38 ribuan KK.
Baca: Harga Karet Rendah, Begini Dampak Secara Tidak Langsung ke Investasi
Baca: Robert Memutuskan Bertobat Setop Mengonsumsi Daging Anjing, Hachiko Penyebabnya
Baca: Inilah 5 Kasus yang Menyeret Nama Habib Bahar Hingga Berurusan dengan Polisi, Menolak Minta Maaf
"Jumlah kebun karet memang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan perkebunan sawit. Selain itu, banyak petani karet yang mengubah tanaman mereka ke sawit dan kawasan pemukiman meski tidak signifikan. Itu satu dari faktor yang mungkin mempengaruhi hal tersebut," terang Kasubag Perencanaan dan Evaluasi Dinas Perkebunan dan Peternakan Batanghari, Budiono, kepada Tribunjambi.com Rabu (19/12/2018).
Dikatakannya pula, berdasarkan data yang ada, tercatat ada 12 komuditi perkebunan yang ada di Batanghari, namun yang menjadi dominan hanya ada dua yaitu sawit dan karet.
Untuk jumlah tanaman karet di Batanghari, total keseluruhan mencapai 113.566 hektare tersebar di delapan kecamatan. Sebanyak 24.269 hektare didominasi milik masyarakat dengan status tanam belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (sudah produkdi) sebanyak 78.758 hektare. Sedangkan tanaman yang tidak produktif atau rusak mencapai 10.539 hektare dikisiran usia 20 tahun ke atas.

"Jumlah produksi karet memang terbilang kecil selain faktor diatas tadi, juga yang terhitung hanya jumlah perkebunan yang menghasilkan saja tidak secara total dari luas perkebunan karet tadi. Namun hal tersebut terbilang wajar," bebernya.
Sedangkan untuk perkebunan kelapa sawit sendiri jumlah total keseluruhan dibatanghari lebih tinggi dibanding perkebunan karet, dengan total keseluruhan kebun sawit mencapai 96.153.30 hektare didominasi perkebunana milik perusahaan.
Dimana dari jumlah total tersebut yang belum menghasilkan (tanaman baru) sekitar 19.089.34 hektare dengan kisaran usia 3-4 tahun, sedangkan tanaman menghasilkan mencapai 72.668.96 hektare dan tanaman tidak produktif atau hasilnya tidak maksimal 4.395.00 hektare.
Baca: Operasi Lilin 2018, Polres Merangin Turunkan Ratusan Personel, Dibantu Brimob
Baca: M-Banking BCA Tak Bisa Diakses sejak Selasa (18/12), Ini Penjelasan dari Bank
Baca: Debat Capres-Cawapres Digelar Lima Kali, Ada 14 Tema Usulan KPU, Ini Agendanya
"Selain jumlah perkebunan sawit lebih besar dan lebih menghasilkan, perkebunan tersebut juga banyak dikelola oleh pihak perusahaaan berbeda dengan karet tadi yang rata rata dikelola petani lokal," sebutnya.
Sedangkan sawit dari luasan 72.668.96 hektare dalam pertahunnya menghasilkan 251,663 ton sawit. Hal tersebut juga wajar mengingat sistem pengelolaan dan penanganan perkebunannya juga berbeda. (*)