Ketika Pasukan PGT ini Harus Bertahan Hidup Saat Memakan Ransum Teman yang Gugur Walau Sedih

Pada 28 Mei 1962, kelompok pasukan ini sedang berupaya mencari makanan dan bertemu penduduk setempat.

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Pasukan RPKAD-PGT yang diterjunkan di Irian Barat (Angkasa) 

TRIBUNJAMBI.COM - Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI yang diterjunkan ke bumi Irian Barat (Papua) pada Mei 1962 setelah bertempur melawan pasukan Belanda makin terdesak dan membentuk kelompok kecil untuk meneruskan perang gerilya.

Kelompok-kelompok kecil pasukan itu kemudian melanjutkan perang gerilyanya sambil berusaha menghindari pertemuan dengan pasukan Belanda.

Baca: 3 Sumur Minyak Ilegal Hasilkan 70 Drum Per Hari, Lokasi Sumur Desa Pompa Air

Baca: VIDEO: Penampakan 9 Tersangka Ilegal Drilling Desa Pompa Air, Lihat Barang Buktinya

Sebagai pasukan gerilya mereka memang tidak bertempur melawan pasukan dalam jumlah besar tapi melaksanakan taktik “serang dan kemudian menghindar” (hit and run).

Setelah berjalan beberapa hari kelompok pasukan Prajurit Udara (PU) I Roedjito berhasil bertemu kelompok pasukan Kopral Udara ( KU) I Samingan beserta dua anggotanya, sehingga jumlah total kelompok kecil itu menjadi tujuh personel.

Pada 28 Mei 1962, kelompok pasukan ini sedang berupaya mencari makanan dan bertemu penduduk setempat. Si penduduk setempat menyanggupi untuk mencari makanan.

Akan tetapi saat menunggu kedatangannya bukan makanan melainkan sekitar satu kompi pasukan Belanda yang langsung menembakkan senjatanya dari daerah ketinggian.

Pertempuran sengit kembali berlangsung dan mengakibatkan gugurnya dua personel PGT AU, salah satunya adalah KU I Samingan.

Sedangkan PU I Roedjito bersama tiga anggota PGT AU lainnya berhasil melarikan diri.

Baca: Bapak TNI AU yang Dulunya Seorang Tentara Belanda yang Pernah Tenggelamkan Kapal Perang Jepang

Baca: VIDEO: Rapat Paripurna Istimewa Awali Peringatan HUT Ke-19 Kabupaten Muarojambi

Sementara itu kelompok PGT AU yang dipimpin oleh Sersan Muda Udara (SMU) Mengko juga menghadapi sergapan dari pasukan Belanda.

Akibat gempuran sengit pasukan Belanda, empat anggota PGT gugur.

Empat anggota PGT lainnya termasuk SMU Mengko sekali lagi berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda.

Akibat terkena tembakan sniper yang mengincar kepalanya, telinga kanan SMU Mengko robek.

Baca: Praktis! Tingkatkan Kemampuan Hubungan Intim Dengan 5 Cara Gampang Pose Yoga Ini

Baca: Kisah Pilot Nganggur yang Sukses Jadi Penerbang Pesawat Tempur Pertama Indonesia

Kendati peralatan medis yang dibawa sangat terbatas, prajurit PGT lainnya bisa menjahit telinga SMU Mengko hingga utuh kembali.

Dalam perjalanan selanjutnya pasukan SMU Mengko kembali bertemu kelompok pasukan lainnya sehingga memiliki kekuatan yang cukup kuat.

Tetapi ada kendala utama yang harus dihadapi yaitu kekurangan bahan makanan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved