Jumat, 5 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Viral

Rupiah Jebol Rp18.031 per Dolar AS, Ekonom Peringatkan Ancaman PHK Massal Semester II 2026

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp18.031 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026).

Tayang:
Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA/ist
Pelemahan mata uang Garuda tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi perekonomian nasional. Sejumlah dampak yang dikhawatirkan antara lain kenaikan harga barang, terganggunya aktivitas dunia usaha, hingga meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK). 

TRIBUNJAMBI.COM – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan menembus level Rp18.031 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026).

Pelemahan mata uang Garuda tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi perekonomian nasional. Sejumlah dampak yang dikhawatirkan antara lain kenaikan harga barang, terganggunya aktivitas dunia usaha, hingga meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan sinyal tekanan ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurut Bhima, kenaikan biaya bahan baku impor akibat melemahnya kurs rupiah pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen.

“Transmisi kenaikan biaya impor ke harga barang di tingkat konsumen pada akhirnya sulit dihindari. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Bhima kepada Tribunnews.com, Kamis (4/6/2026).

Baca juga: Terkejut Dengar Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Menkeu Purbaya: Kasihan Amat

Baca juga: Kecurigaan Prabowo ke Dadan Hindayana Soal Korupsi MBG, Ada Laporan Rahasia: Saya Sedih dan Kecewa

Pelemahan Dinilai Terlalu Cepat

Bhima menyoroti bukan hanya posisi rupiah yang melemah, tetapi juga laju pelemahannya yang dinilai terlalu cepat.

Ia menyebut sejak awal tahun 2026 hingga saat ini rupiah telah terdepresiasi sekitar 8 persen terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha menghadapi dilema dalam menentukan harga jual produk. Di satu sisi biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga bahan baku impor, namun di sisi lain daya beli masyarakat belum tentu mampu mengikuti kenaikan harga.

“Pelaku usaha menghadapi situasi yang sulit. Harga bahan baku naik, tetapi konsumen belum siap menerima kenaikan harga produk,” katanya.

Akibatnya, sejumlah perusahaan kemungkinan memilih strategi menekan biaya produksi, seperti mengurangi ukuran produk atau bahkan menghentikan sementara kegiatan produksi.

Risiko PHK Massal Semester II 2026

Bhima memperingatkan bahwa dampak yang lebih serius dapat muncul apabila perusahaan mulai mengurangi kapasitas produksi secara besar-besaran.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang PHK pada paruh kedua tahun 2026.

“Jika produksi mulai dikurangi karena tekanan biaya yang tinggi, maka risiko PHK massal bisa meningkat pada semester kedua tahun ini,” ujarnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved