Berita Viral
Harga BBM Melonjak, Bolehkah Ganti atau Campur Bensin Agar Lebih Irit?
Lonjakan harga BBM nonsubsidi di tengah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat sebagian pengendara mulai mencari cara untuk menekan
Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
TRIBUNJAMBI.COM - Lonjakan harga BBM nonsubsidi di tengah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat sebagian pengendara mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran, termasuk dengan mengganti atau bahkan mencampur jenis bahan bakar.
Fenomena tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi, salah satunya pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu.
Ia mengingatkan bahwa langkah penghematan dengan cara tersebut justru berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap performa hingga umur mesin kendaraan.
Menurut Yannes, penggunaan BBM dengan nilai oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan dapat langsung memengaruhi kinerja mesin.
“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih, tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” ujarnya dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, dalam pemakaian jangka menengah sekitar 10.000 hingga 20.000 kilometer, kondisi tersebut bisa memicu terbentuknya deposit karbon di ruang bakar dan injektor.
Baca juga: Harga Pertamax Berpotensi Naik Ikuti Pasar, Bahlil Imbau Penggunaan Lebih Bijak
Baca juga: Viral Anggaran untuk Kebersihan Rp22 Miliar di Masjid Al Jabbar, KDM Buka Suara
Akibatnya, performa mesin akan menurun yang ditandai dengan idle kasar, akselerasi tersendat, serta peningkatan emisi gas buang.
Dampak tersebut dinilai akan lebih terasa pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi.
Yannes menuturkan bahwa mobil dengan turbo atau rasio kompresi tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami keausan komponen internal, seperti ring piston, apabila menggunakan BBM yang tidak sesuai standar.
Selain mengganti jenis BBM, kebiasaan mencampur bahan bakar juga menjadi sorotan.
Ia menegaskan bahwa praktik mencampur BBM seperti Pertamax Turbo dengan Pertamax bukanlah langkah yang dianjurkan.
“Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda,” kata Yannes.
Menurutnya, pencampuran dua jenis BBM dapat menghasilkan nilai oktan yang tidak stabil.
Dalam jangka menengah, kondisi tersebut bisa menyebabkan penurunan performa mesin, pembakaran yang tidak merata, hingga munculnya knocking sporadis atau suara ketukan tidak normal pada mesin.
Tidak hanya itu, endapan residu juga berpotensi terbentuk dan menyumbat filter bahan bakar.
| Harga Pertamax Berpotensi Naik Ikuti Pasar, Bahlil Imbau Penggunaan Lebih Bijak |
|
|---|
| Viral Kru Kapal Gamsunoro Diduga Tak Ada Orang WNI, Pertamina Akhirnya Buka Suara |
|
|---|
| Viral Anggaran untuk Kebersihan Rp22 Miliar di Masjid Al Jabbar, KDM Buka Suara |
|
|---|
| Harta Seskab Teddy Melejit Signifikan Dalam Setahun, Kini Capai Rp20 Miliar |
|
|---|
| Sosok 4 Mantan Bupati di Jambi Berkumpul, Isyarat Kekuatan Politik Baru? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260420-Petugas-SPBU-isi-BBM.jpg)