AS vs Iran
Media Inggris Laporkan Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei Kritis: Data Intelijen AS-Israel
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam laporan media Inggris, The Times, dikabarkan berada dalam kondisi kesehatan kritis.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Kondisi dan Keberadaan Mojtaba Khamenei Dipertanyakan
- Mojtaba Khamenei dilaporkan kritis dan dirawat intensif di Kota Qom.
- Intelijen AS-Israel mengeklaim sang Pemimpin dalam kondisi tidak sadar.
- Tidak ada rekaman video/audio asli Mojtaba sejak konflik 40 hari terakhir.
- Oposisi curiga pemerintah sengaja menutupi isu kesehatan serius tersebut.
- Kabar ini memicu ketidakpastian politik di tengah masa gencatan senjata.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Dilaporkan Kritis
TRIBUNJAMBI.COM – Di tengah gencatan senjata yang rapuh dengan Amerika Serikat, Republik Islam Iran kini diguncang kabar mengejutkan dari dalam lingkaran kekuasaan tertingginya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dikabarkan berada dalam kondisi kesehatan kritis.
Kabar tersebut sontak memicu spekulasi besar mengenai masa depan stabilitas politik dan militer negara tersebut.
Kabar mengenai memburuknya kesehatan sang pemimpin pertama kali diembuskan oleh media Inggris, The Times.
Laporan tersebut mengacu pada sebuah memo diplomatik rahasia yang disusun berdasarkan data intelijen Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan dokumen tersebut, Mojtaba Khamenei saat ini disebut tengah menjalani perawatan medis intensif di sebuah fasilitas rahasia di kota suci Qom.
Kondisinya dilaporkan sangat mengkhawatirkan hingga ia kehilangan kesadaran dan secara fungsional tidak mampu lagi menjalankan tugas-tugas pemerintahan yang mendesak.
Faktor utama yang memperkuat kecurigaan publik adalah absennya sang Pemimpin dari hadapan rakyat sejak konflik dengan Amerika Serikat-Israel pecah pada akhir Februari lalu.
Meskipun televisi pemerintah beberapa kali menyiarkan pernyataan yang diklaim berasal darinya, tidak ada satu pun rekaman video atau audio asli yang memperlihatkan Mojtaba berbicara secara langsung.
Baca juga: Iran Klaim Kemenangan Mutlak: AS-Israel Bertekuk Lutut Setelah 40 Hari Perang
Baca juga: Keluarga Adukan Hukuman Ringan 3 Polisi Jambi ke Kompolnas dan Mabes Polri
Tercatat hanya dua pernyataan tertulis yang dikaitkan dengan namanya, sebuah anomali besar bagi seorang pemimpin negara yang sedang berada dalam situasi perang.
Kelompok oposisi Iran menilai keterbatasan komunikasi ini merupakan taktik pemerintah untuk menutupi kekosongan kekuasaan.
Spekulasi di Tengah Gejolak
Hingga saat ini, otoritas Teheran belum memberikan pernyataan resmi untuk membantah atau mengonfirmasi laporan kesehatan tersebut.
Situasi ini menambah lapisan ketidakpastian baru dalam peta politik Timur Tengah, terutama saat Iran dan Amerika Serikat sedang berada dalam masa negosiasi dua minggu yang sangat menentukan.
Jika kabar ini benar, Iran mungkin akan menghadapi transisi kepemimpinan yang pelik di saat ancaman militer asing masih mengintai di perbatasan.
Kekuasaan Iran Dipertanyakan
Sejumlah analis menilai bahwa kendali pemerintahan kemungkinan dijalankan secara kolektif oleh struktur kekuasaan yang ada, termasuk pejabat tinggi negara dan militer.
Salah satu institusi yang disebut berpotensi memegang kendali de facto adalah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memiliki pengaruh besar dalam aspek keamanan dan politik Iran.
Meski demikian, hingga kini pemerintah Iran masih menyatakan bahwa sistem pemerintahan berjalan normal dan berada di bawah kendali kepemimpinan yang sah.
Namun, minimnya kejelasan di ruang publik membuat pertanyaan mengenai siapa yang benar-benar memimpin tetap menjadi sorotan, terutama di tengah momentum penting gencatan senjata dan negosiasi damai yang sedang berlangsung.
Ketidakjelasan mengenai siapa yang memegang kendali pemerintahan Iran di tengah gencatan senjata memunculkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas internal negara tersebut.
Situasi ini dinilai berpotensi memicu konflik di dalam lingkaran elit kekuasaan, terutama jika tidak ada kepemimpinan yang jelas di saat negara menghadapi tekanan militer dan diplomatik.
Pengamat menilai kondisi seperti ini dapat memperbesar risiko terjadinya perebutan pengaruh antarfaksi dalam pemerintahan.
Media Israel, The Jerusalem Post, mengklaim ketidakpastian kepemimpinan juga berpotensi melemahkan posisi Iran dalam negosiasi internasional, khususnya dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Baca juga: Ekspor Pinang Jambi ke Iran Tertahan Konflik Global, Bea Cukai Pastikan Reimpor Bebas Bea Masuk
Baca juga: Menkeu Purbaya Ungkap Alasan Pemerintah Belum Naikkan Harga BBM
Tanpa figur pemimpin yang kuat dan aktif, keputusan strategis bisa tertunda atau tidak konsisten, sehingga mengurangi daya tawar Iran di meja diplomasi.
Di tingkat kawasan, kondisi ini juga dikhawatirkan dapat meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Negara-negara lain akan terus memantau situasi internal Iran, terutama jika terjadi perubahan arah kebijakan secara tiba-tiba akibat dinamika kekuasaan di dalam negeri.
AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Dua Pekan
Meski Mojtaba Khamenei diisukan dalam kondisi kritis hingga menimbulkan pertanyaan soal kepemimpinan, Iran tetap menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat setelah konflik yang berlangsung lebih dari satu bulan sejak 28 Februari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa pemerintah Iran menerima kesepakatan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perundingan damai.
Bagi Iran, gencatan senjata ini adalah kemenangan sebab Amerika Serikat menyepakati 10 tuntutan yang diajukan Teheran untuk gencatan dan memulai perundingan.
"Selama periode ini [gencatan dua pekan], penting untuk menjaga persatuan nasional secara penuh serta melanjutkan perayaan kemenangan dengan kuat," demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa (7/4/2026).
Adapun salah satu poin penting dalam kesepakatan ini adalah pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang sebelumnya ditutup akibat operasi militer oleh AS dan sekutunya.
Abbas Araghchi menyatakan bahwa selama periode dua minggu tersebut, jalur aman di Selat Hormuz akan dibuka kembali melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, dengan tetap mempertimbangkan berbagai keterbatasan teknis di lapangan.
Gencatan senjata ini diharapkan menjadi langkah awal menuju perundingan damai yang lebih luas, meskipun situasi di kawasan masih dinilai rentan dan penuh ketidakpastian.
Perang AS-Israel Vs Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari 2026, mengawali perang baru di kawasan tersebut.
Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah perundingan antara AS dan Iran terkait pembatasan program nuklir kembali digelar di Jenewa.
AS dan Israel berulang kali menuduh Iran berupaya memperkaya uranium untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran menegaskan program tersebut ditujukan semata-mata untuk kepentingan energi sipil.
Serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu mengakibatkan lebih dari 1.900 korban jiwa di Iran dan kawasan Timur Tengah.
Sebagai respons, Iran menghentikan jalur diplomasi dengan AS dan melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer milik AS dan Israel di berbagai negara Arab termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan UEA.
Iran juga mengambil langkah strategis dengan memblokade Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting distribusi energi dunia, sehingga berdampak pada lonjakan harga minyak global.
Setelah munculnya ancaman krisis energi global, Trump beberapa kali mengatakan AS dan Iran berupaya untuk melakukan perundingan, hingga gencatan senjata sementara berhasil dicapai pada hari Selasa (6/4/2026) dengan mediator Pakistan.
Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News
Baca juga: Segera Pulang, Korban Loker Scam Kamboja Asal Jambi Mengaku Sudah Dihubungi P4MI
Baca juga: Ekspor Pinang Jambi ke Iran Tertahan Konflik Global, Bea Cukai Pastikan Reimpor Bebas Bea Masuk
Baca juga: Pemkot Jambi Terapkan WFH ASN Mulai 10 April, DPRD Ingatkan Layanan Publik
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kondisi Mojtaba Khamenei Diisukan Kritis, Kekuasaan Iran Dipertanyakan di Tengah Gencatan Senjata
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260408-Pemimpin-tertinggi-Iran-Mojtaba-Khamenei.jpg)