Berita Internasional
Riyadh Membara: Arab Saudi Usir Atase Militer Iran & Siaga Perang Bela Diri
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi pada Sabtu (21/3/2026) secara resmi mengusir sejumlah pejabat militer Teheran sebagai respons atas serangan Iran.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Dengan diusirnya pejabat militer senior Iran, jalur komunikasi pertahanan kedua negara praktis terputus di tengah situasi Timur Tengah yang kian di ambang perang besar.
Update Perang di Timur Tengah
Situasi di Timur Tengah masih dihantui kekhawatiran akan ledakan dari rudal serangan antara Iran kontra Amerika Serikat dan Israel.
Adapun perang itu telah memasuki minggu keempat tepatnya hari ke-23, yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Perang itu setidaknya menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran, sementara jumlah korban tewas di pihak Amerika Serikat dan Israel masih simpang siur.
Jumlah korban perang Timur Tengah itu tampaknya 'ditutup-tutupi' oleh pemerintah setempat.
Serangan balasan pun dilakukan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Iran terus menyerang Israel dan pangkalan AS sebagai balasan termasuk tadi malam Iran menyerang lokasi nuklir Israel di Dimona dan Arad dan dilaporkan 100 orang terluka namun tak ada laporan korban jiwa.
Sementara jutaan warga Iran merayakan Idul Fitri dan Nowruz di bawah bayang-bayang perang.
Baca juga: Iran vs Israel, Strategi Baru Iran Selat Hormuz Ditutup Tapi Kapal Jepang Boleh Lewat
Baca juga: Gus Yaqut Eks Menag Bebas dari Rutan KPK, Lebaran 2026 di Rumah Disorot
Secara terpisah, AS mengatakan sedang mempertimbangkan untuk "mengakhiri" konflik sambil menolak kemungkinan gencatan senjata.
Inggris telah mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan militer untuk melakukan serangan terhadap situs rudal Iran.
Trump Ultimatum Iran 48 Jam
Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengeluarkan ancaman paling ekstrem terhadap kedaulatan infrastruktur Iran.
Melalui platform Truth Social, Sabtu (21/3/2026), Trump memberikan tenggat waktu (ultimatum) selama 48 jam bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sebagaimana jalur nadi energi dunia itu telah lumpuh sejak agresi 28 Februari lalu.
Jika dalam waktu dua hari Iran tetap bersikeras memblokade jalur distribusi 20 juta barel minyak per hari tersebut, militer AS diperintahkan untuk melumpuhkan jaringan listrik di seluruh negeri.
Donald Trump secara spesifik mengincar fasilitas pembangkit listrik utama sebagai target awal serangan udara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260321-Penampakan-rudal-Arab-Saudi.jpg)