Idulfitri 1447 H
Klarifikasi Polemik Salat Id Sukoharjo Batal: Kades Minta Maaf Atas Kegaduhan
Ketidaktegasan dalam mengomunikasikan kebijakan ini kemudian memicu kegaduhan saat PRM Muhammadiyah melayangkan surat pemberitahuan.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:salat id di Sukoharjo Dibatalkan
- Kemenag Sukoharjo tegaskan isu pembubaran salat id di Kedungwinong hoaks.
- Kegaduhan dipicu miskomunikasi dan ketidaktegasan kebijakan kepala desa.
- Panitia pilih batalkan salat H-1 demi jaga kondusivitas antarwarga.
- Kades Kedungwinong sampaikan permohonan maaf atas polemik yang terjadi.
- Muhammadiyah berharap hak beribadah ormas tidak dihalangi di masa depan.
TRIBUNJAMBI.COM - Dinamika perbedaan awal Syawal 1447 Hijriah di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, akhirnya menemui titik terang melalui proses klarifikasi resmi.
Ketegangan yang sempat mencuat antara warga ormas Muhammadiyah dengan otoritas desa dipastikan bersumber dari miskomunikasi terkait kebijakan pelaksanaan salat Idulfitri.
Kasi Bimas Islam Kemenag Sukoharjo, Khomsun Nur Arif, menegaskan tidak ada aksi pembubaran paksa dalam insiden tersebut.
Pembatalan rencana salat id pada Jumat (20/3/2026) murni dilakukan oleh panitia sehari sebelumnya guna menghindari potensi gesekan.
Polemik bermula ketika Pemerintah Desa Kedungwinong melalui kesepakatan dengan Lembaga Pendidikan Pengamalan Agama (LP2A) memutuskan untuk menyelenggarakan salat id hanya satu kali, yakni mengikuti hasil sidang isbat pemerintah.
Ketidaktegasan dalam mengomunikasikan kebijakan ini kemudian memicu kegaduhan saat PRM Muhammadiyah melayangkan surat pemberitahuan.
Camat Nguter, Sukatman, membenarkan adanya kerancuan izin tersebut. "Kades pun tak mengizinkan, tapi juga tidak melarang (salat id)," ungkapnya menggambarkan posisi abu-abu otoritas desa saat itu.
Hoaks Pembubaran dan Permohonan Maaf
Sekretaris PDM Muhammadiyah Sukoharjo, Tri Wibowo, meluruskan kabar burung yang beredar di media sosial. Ia membantah keras adanya pembubaran paksa jemaah oleh aparat.
"Kemudian dibubarkan itu (soal pembubaran salat id) juga hoaks. Tidak dibubarkan," tutur Tri Wibowo. Ia menambahkan bahwa warga sempat mendatangi kantor kepala desa untuk mencari kejelasan, namun situasi tetap terkendali.
Baca juga: Salat Idulfitri di Sukoharjo Batal, Panitia Diintimidasi dan Diancam Oknum Aparat
Baca juga: Trump Amuk NATO, Sebut Macan Kertas Pengecut Hadapi Blokade Iran
Merespons tekanan publik yang meluas, Kepala Desa Kedungwinong akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi.
Langkah klarifikasi ini dinilai krusial untuk mencegah gelombang massa yang lebih besar dari berbagai wilayah.
"Kalau tidak segera diklarifikasi dan ada pernyataan (dari kepala desa), saya yakin warga terus berdatangan," pungkas Tri Wibowo.
PDM Sukoharjo berharap ke depannya seluruh ormas dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinan tanpa ada hambatan birokrasi di tingkat desa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260321-Salat-Idulfitri-1447-H-2026-di-Bintaro-Jakarta.jpg)