Rabu, 29 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Viral

Wamendikti Stella Christie Sentil Kasus Alumni LPDP: Gagalnya Pendidikan Moral

Pandangan kritis disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie terkait polemik yang melibatkan penerima beasiswa

Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Tommy Kurniawan
Tribunjambi.com/ist
Pandangan kritis disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie terkait polemik yang melibatkan penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas. 

TRIBUNJAMBI.COM - Pandangan kritis disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie terkait polemik yang melibatkan penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas.

Nama Tyas menjadi sorotan publik setelah unggahan di media sosialnya memperlihatkan anaknya yang telah memperoleh kewarganegaraan Inggris, disertai pernyataan yang dinilai merendahkan status kewarganegaraan Indonesia.

Alumni S-2 dari Delft University of Technology tersebut diketahui merupakan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada tahun 2017.

Ucapan Tyas yang menyebut dirinya cukup menjadi satu-satunya warga negara Indonesia dalam keluarga, sementara anak-anaknya diupayakan memiliki paspor asing, memicu kontroversi luas di tengah masyarakat.

Menanggapi hal itu, Stella Christie menilai peristiwa tersebut mencerminkan adanya kelemahan dalam pembentukan karakter sejak usia dini.

“Menurut saya ini adalah suatu kegagalan pendidikan moral sejak dini,” ujar Stella saat tampil dalam program HOTROOM di Metro TV, Rabu (25/2/2026).

Baca juga: Kejanggalan Hotman Paris Soal Tuntutan Hukuman Mati ABK yang Baru Tiga Hari Kerja

Baca juga: Ketakutan Menkeu Purbaya Usai Anaknya Banjir Gift TikTok, KPK Buka Suara

Aspek identitas kebangsaan dinilai belum tertanam dengan baik, sehingga menimbulkan sikap yang kurang mencerminkan kecintaan terhadap tanah air.

Rasa nasionalisme dan patriotisme, menurut Stella, menjadi elemen penting dalam membangun kesadaran sebagai warga negara Indonesia.

Lulusan Harvard University itu juga menilai permasalahan semacam ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperketat regulasi beasiswa LPDP.

Penanaman nilai kebangsaan sejak dini dianggap sebagai langkah yang lebih efektif untuk mencegah munculnya sikap serupa di masa depan.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kepada anak-anak yang tinggal di luar negeri, disebut sebagai salah satu cara sederhana untuk menumbuhkan kebanggaan nasional.

“Berikan kebanggaan bahwa berbicara bahasa Indonesia itu adalah suatu kebanggaan,” katanya.

Stella turut mengingatkan pentingnya penyaluran beasiswa negara yang tepat sasaran kepada mereka yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga membutuhkan secara ekonomi.

Selama ini, ia menilai LPDP belum sepenuhnya mempertimbangkan latar belakang ekonomi keluarga dalam proses seleksi penerima beasiswa.

Kondisi tersebut dinilai perlu diperbaiki agar bantuan pendidikan benar-benar menyasar individu yang memiliki keterbatasan finansial.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved