Selasa, 9 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Anak Dijual ke Pedalaman Jambi

Mengenal Suku Anak Dalam atau SAD yang Ada di Provinsi Jambi

Suku Anak Dalam merupakan penyebutan bagi masyarakat yang mendiami kawasan hutan dataran rendah di wilayah Sumatra Tengah, Provinsi Jambi. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Tribunnews.com
Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dialog dengan warga Suku Anak Dalam di Desa Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, Sabtu (31/10/2015). Di sana Jokowi membagikan bantuan paket sembako dan paket Kartu Sakti terdiri dari Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera kepada masyarakat Suku Anak Dalam. 

Ringkasan Berita:Mengenal Suku Anak Dalam
  • Suku Anak Dalam (SAD) adalah warga pedalaman hutan dataran rendah Jambi.
  • Nama "Kubu" dihindari karena dianggap menghina; mereka lebih suka disebut Orang Rimba.
  • Hidup seminomaden dalam kelompok "Tubo" yang dipimpin oleh seorang Tumenggung.
  • Lokasi terpencil SAD dimanfaatkan mafia untuk transaksi perdagangan balita.
  • Polisi harus menembus medan berat pedalaman untuk selamatkan korban dari sindikat.

 

TRIBUNJAMBI.COM - Nama Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba mendadak menjadi sorotan nasional setelah Polda Metro Jaya membongkar sindikat perdagangan balita yang menjadikan wilayah mereka sebagai titik akhir transaksi.

Lokasinya yang terisolasi di pedalaman hutan Provinsi Jambi diduga dimanfaatkan oleh para mafia perdagangan orang untuk menyembunyikan jejak kejahatan.

Lantas, siapakah sebenarnya Suku Anak Dalam yang namanya terseret dalam pusaran kasus perdagangan anak lintas provinsi ini?

Eksistensi Orang Rimba dan Peyorasi Nama "Kubu"

Suku Anak Dalam (SAD) merupakan penyebutan bagi masyarakat yang mendiami kawasan hutan dataran rendah di wilayah Sumatra Tengah, khususnya Provinsi Jambi

Masyarakat luas sering menyebut mereka sebagai "Suku Kubu", yang diambil dari kata ngubu atau ngubun (bahasa Melayu) yang berarti bersembunyi di dalam hutan.

Namun, istilah "Kubu" saat ini telah dihindari karena dianggap sebagai peyorasi atau penghinaan bagi suku tersebut. Istilah yang lebih ramah untuk menyebut mereka adalah Orang Rimba atau SAD Batin Sembilan. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi, populasi mereka diperkirakan mencapai 3.000 jiwa.

Baca juga: Polda Metro Jaya Ungkap 4 Anak Dijual ke Pedalaman Jambi, 10 Jadi Tersangka

Baca juga: Buntut Guru Dikeroyok Siswa di Tanjabtim, Kejati Jambi Dorong DPRD Terbitkan Perda Hukum Adat

Baca juga: Tol Jambi–Rengat Segera Dibangun, Lampung ke Pekanbaru Via Jambi-Sumsel Cukup 12 Jam

Geografis dan Pola Hidup Seminomaden

Wilayah sebaran utama SAD atau Orang Rimba berada di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dan sebagian kecil di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). 

Namun, seiring menyempitnya hutan, kini mereka juga dapat ditemukan di hutan-hutan sekunder serta perkebunan kelapa sawit di sepanjang Jalan Lintas Sumatra.

Kehidupan mereka bersifat seminomaden dan hidup berkelompok yang disebut dengan "Tubo". 

Setiap kelompok dipimpin oleh seorang "Tumenggung". 

Struktur kepemimpinan ini sangat dihormati, di mana seorang Tumenggung biasanya dipilih berdasarkan garis keturunan atau kapasitas pribadinya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved