Berita Nasional
Celios Semprot Pidato Presiden: Siapa yang Buat Teks Prabowo? Itu Salah Baca Data
Celios menyebut klaim Presiden Prabowo yang menyebut Indonesia Negara Paling Bahagia sebagai bentuk "salah baca data" yang fatal.
Penulis: Darwin Sijabat | Editor: Darwin Sijabat
Ringkasan Berita:Celios Kritik Presiden Prabowo
- Celios sebut Presiden Prabowo salah klaim Indonesia Negara Paling Bahagia.
- Data GFS merujuk pada "Makna Hidup", bukan "Kebahagiaan" riil.
- Media Wahyudi pertanyakan kredibilitas penyusun teks pidato Presiden.
- Rakyat Indonesia dianggap tangguh karena faktor religi, bukan kesejahteraan.
- Celios ingatkan pemerintah jangan pakai data untuk tutupi isu struktural.
TRIBUNJAMBI.COM - Pernyataan Presiden RI, Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia sebagai Negara Paling Bahagia di dunia berdasarkan survei terbaru menuai kritik tajam.
Center of Economic and Law Studies atau Celios menyebut klaim tersebut sebagai bentuk "salah baca data" yang fatal.
Celios juga mempertanyakan siapa sosok di balik penyusun naskah pidato Presiden Prabowo.
Dalam perayaan Natal Nasional 2025 di Senayan, Senin (5/1/2026), Prabowo Subianto dengan nada haru menyampaikan temuan Global Flourishing Study (GFS), kolaborasi Harvard, Baylor, dan Gallup.
Ia menyebut dari hampir 200 negara, rakyat Indonesialah yang paling banyak mengaku bahagia.
"Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya," ujar Prabowo.
Ia menambahkan, meski banyak rakyat hidup sederhana dan belum sejahtera, mereka tetap merasa bahagia.
Antara "Kebahagiaan" dan "Makna Hidup"
Namun, Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, segera meluruskan klaim tersebut.
Baca juga: Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan, Gubernur Al Haris Hadiri Tasyakuran Secara Virtual
Baca juga: Roy Suryo Ragukan Klaim Elida: Emboss Ijazah Tak Terjangkau Karena Terlapisi Plastik, Ada yang Cair?
Baca juga: Terombang Ambing 7 Jam di Laut Lepas: Tim SAR Berhasil Evakuasi 3 ABK Kapal Karam di Perairan Jambi
Menurutnya, ada percampuran terminologi yang keliru antara happiness (kebahagiaan) dan flourishing (kesejahteraan/keberdayaan).
"Data ini tidak mengatakan orang Indonesia itu bahagia. Flourishing itu bukan sinonim kebahagiaan," tegas Media dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).
Media menjelaskan bahwa jika membedah komponen GFS, skor tinggi Indonesia justru bukan disokong oleh kepuasan hidup (life satisfaction), melainkan oleh aspek ketangguhan mental dan spiritual.
"Skor itu ditopang oleh makna hidup, tujuan, karakter, dan kebajikan. Contohnya begini: orang bisa berkata 'Hidup saya berat, gaji pas-pasan, capek, tapi ini sudah jalan Tuhan'. Jadi makna hidupnya tinggi, tapi bukan berarti lebih bahagia," ungkap Media.
Siapa Penyusun Pidatonya?
Kritik Celios melancip pada proses verifikasi data di lingkaran Istana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20260109-Presiden-Prabowo-Subianto-di-Natal-Nasional-2025.jpg)