Dampak Dolar Naik ke Jambi
Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi
Dolar AS naik memberikan dampak luas terhadap sektor riil masyarakat, termasuk di daerah seperti Provinsi Jambi.
Penulis: Syrillus Krisdianto | Editor: asto s
Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah merupakan satu di antara persoalan ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
Jika dolar AS semakin naik, mengapa bisa berdampak ke warga Jambi? Berikut penjelasan
Prof Haryadi Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi:
Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan cukup besar. Pada 19 Mei 2026, kurs dolar AS berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS.
Sebelumnya, pada awal tahun 2026, nilai tukar rupiah masih berada di sekitar Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS, pelemahan itu menunjukkan bahwa dolar semakin kuat sementara rupiah melemah.
Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor global, satu diantaranya adalah kebijakan suku bunga tinggi oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).
Ketika suku bunga AS tinggi, investor dunia cenderung menyimpan uang dalam bentuk dolar karena dianggap lebih menguntungkan dan aman.
Selain itu, kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil juga menyebabkan dolar menjadi mata uang yang paling dicari.
Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan dan melemah.
Dampak ke Sektor Riil
Sehingga, kondisi itu memberikan dampak luas terhadap sektor riil masyarakat, termasuk di daerah seperti Provinsi Jambi.
Sektor riil merupakan sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa secara langsung, seperti pertanian, perdagangan, industri kecil, transportasi, hingga UMKM.
Ketika dolar naik, sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak karena banyak kegiatan produksi di Indonesia masih bergantung pada barang impor atau bahan baku yang dibeli menggunakan dolar AS.
Satu di antara dampak paling nyata adalah kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Sebab, banyak barang konsumsi sehari-hari dipengaruhi oleh harga internasional yang menggunakan dolar.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal, sehingga harga barang di pasar ikut meningkat. Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, bahan pangan, hingga barang rumah tangga lainnya.
| Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya |
|
|---|
| Petani Sawit Jambi Waswas Dolar Menguat, Pupuk Bisa Naik Ratusan Ribu |
|
|---|
| Harga Pupuk di Batang Hari Melonjak, Pedagang dan Petani Mulai Tertekan |
|
|---|
| Kurs Dolar Naik, Harga Sawit dan Upah Pekerja di Tanjab Barat Belum Berubah |
|
|---|
| Produsen Tempe Jambi Waspadai Dampak Dolar Rp17.000, Kedelai Sudah Naik 20 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/17102025-Haryadi.jpg)