Kamis, 7 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Makan Bergizi Gratis

Mahasiswa Jambi soal MBG di PT: Jangan Sampai Kampus Lebih Sibuk Urus Dapur

Wacana pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan perguruan tinggi terus menjadi perhatian

Tayang:
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Mareza Sutan AJ
TRIBUN JAMBI/ISTIMEWA
ILUSTRASI MBG -- Mahasiswa Jambi menyoroti wacana pendirian dapur MBG atau SPPG di perguruan tinggi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -- Wacana pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan perguruan tinggi terus menjadi perhatian publik.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mendorong perguruan tinggi untuk membangun serta mengelola dapur SPPG secara mandiri sebagai bentuk dukungan terhadap program MBG.

Namun, gagasan tersebut menuai kritik dari kalangan mahasiswa di Jambi.

Ketua BEM Universitas Jambi, Rahmad Dzaki, menilai keberadaan dapur SPPG di kampus masih bisa diterima apabila difungsikan sebagai sarana riset atau proyek percontohan untuk menyusun standar pengelolaan.

“Kalau hanya untuk riset atau percontohan, tidak masalah. Tapi jika dijadikan dapur MBG sepenuhnya, ini yang jadi persoalan,” ujarnya, Rabu (6/5).

Ia mengingatkan bahwa keberadaan dapur MBG berisiko menggeser peran kampus sebagai ruang intelektual menjadi sekadar pelaksana program pemerintah.

“Jangan sampai kampus lebih sibuk mengurus dapur daripada menjalankan fungsi utamanya, sehingga terjadi tumpang tindih peran,” katanya.

Dzaki juga menekankan pentingnya kajian lebih mendalam agar program MBG benar-benar tepat sasaran.

“Program ini memang baik, tetapi harus diawali dengan pemetaan yang jelas tentang daerah yang benar-benar membutuhkan,” tambahnya.

Pendapat serupa disampaikan Ketua BEM Pertanian Universitas Jambi, Vadel Muhammad Fajri.

Ia menilai MBG merupakan program yang positif karena manfaatnya langsung dirasakan masyarakat, namun pelibatan kampus sebagai pengelola dapur dinilai belum tepat saat ini.

“Kebutuhan utama universitas adalah pengembangan ilmu pengetahuan.

"Jadi, anggaran sebaiknya diprioritaskan untuk kesejahteraan dosen, fasilitas kampus, dan penelitian,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan adanya potensi intervensi terhadap kebebasan akademik apabila program tersebut dijalankan di kampus.

“Universitas seharusnya menjadi mitra kajian strategis, bukan pelaksana teknis,” tegasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved