Berita Jambi
Sinema Kajang Lako Menjaga Jejak Film Jambi, Ada 27 Komunitas Film
Di Jambi, sedikitnya 27 komunitas film termasuk UKM kampus, belum termasuk production house (PH) dan pembuat film individu.
Penulis: Rifani Halim | Editor: asto s
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Komunitas film Sinema Kajang Lako mendorong lahirnya sistem pengarsipan film Jambi yang terstruktur agar karya sineas daerah tidak hilang dan bisa diakses lintas generasi.
Ketua Pelaksana diskusi dan nonton bersama Sinema Kajang Lako, Rahmat Hidayat, mengatakan selama ini produksi film di Jambi cukup aktif.
Berdasarkan pendataan internal, terdapat sedikitnya 27 komunitas film termasuk UKM kampus, belum termasuk production house (PH) dan pembuat film individu.
“Masalahnya karya ada, tapi arsip dan aksesnya terbatas. Tidak ada data terpusat tentang judul, tahun produksi, kru, atau konteks pembuatannya,” ujarnya saat diskusi dan nonton bersama.
Menurut Rahmat, pengarsipan bukan sekadar menyimpan file film, tetapi juga mendata sinopsis, poster, trailer, daftar kru, hingga latar produksi.
“Arsip itu sistem penataan karya. Ia mencatat informasi penting supaya film mudah ditelusuri dan bisa digunakan kembali untuk kajian, edukasi, atau pemutaran alternatif,” katanya.
Sinema Kajang Lako, lanjutnya, bersifat non-profit dan tidak mengambil hak distribusi karya.
“Kami hanya sebagai media penyimpanan berbasis kepercayaan. Distribusi tetap atas izin pemilik karya. Nanti ada MOU supaya jelas batasannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, arsip juga bisa menjadi basis data tahunan untuk melihat perkembangan perfilman Jambi, sekaligus menjembatani sineas dengan informasi festival atau pemutaran yang relevan.
Dalam forum pemutaran dan diskusi yang digelar, sejumlah karya lokal turut dipresentasikan sebagai contoh pentingnya pendataan tersebut.
Salah satunya film “Bunga Tanpa Lebah” karya Rachmat Hidayat.
Film ini mengangkat kisah Datuk Hasan, tokoh adat yang prihatin melihat cucunya, Zaza, tumbuh dalam kesepian di tengah orang tua yang sibuk oleh tekanan ekonomi dan dunia digital.
Lewat seloko dan peribahasa adat, Datuk Hasan menanamkan nilai kehidupan sembari menyimpan kegundahan akan budaya yang kian terasa sunyi.
Film tersebut menegaskan bahwa warisan adat bukan sekadar simbol, melainkan harapan agar seloko tetap hidup di hati generasi muda, seperti bunga yang tak kehilangan lebah penyerbuknya.
Sementara itu, film dokumenter “Saudara Kembar Buaya” garapan Husni lahir dari pengalaman tak terduga saat syuting pada 2017.
| Kebakaran Ruko Percetakan Simpang IV Sipin Jambi, Kariawan Panik dan Lompat |
|
|---|
| Kejari Tunggu Audit Kerugian Negara Dugaan Korupsi Parkir Pasar Angso Duo |
|
|---|
| Finix Atletik Sumatera Open Championship Dibuka, 300 Atlet Berpartisipasi |
|
|---|
| Gandeng Trend Asia, SIEJ Gelar Diskusi Publik Soroti Urgensi PLTU dan Transisi Energi di Jambi |
|
|---|
| Rakernas ADPMET di Jambi, Al Haris Soroti Perjuangan Hak Participating Interest Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Komunitas-film-Sinema-Kajang-Lako-mendorong-lahirnya-sistem-pengarsipan.jpg)