Jumat, 8 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Pelangsir BBM di Bungo

BBM Subsidi Dihentikan, SPBU Tebing Tinggi Bungo Jambi Hanya Salurkan Non-subsidi

Pertamina masih menghentikan pasokan di SPBU Tebing Tinggi di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Jambi

Tayang:
Ist
DITANGKAP - Satu pelangsir dan operator SPBU Tebing Tinggi, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Jambi ditangkap polisi pada Kamis (9/4/2026). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak kasus penyalahgunaan bahan bakar subsidi, hingga saat ini Pertamina masih menghentikan pasokan di SPBU Tebing Tinggi di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo, Jambi

Sales Branch Manager (SBM) Jambi II Fuel, Jason Paulinus mengatakan bahwa hanya bahan bakar subsidi yang dihentikan. 

Untuk bahan bakal non subsidi seperti Pertamax dan Dexlite masih disalurkan dan tersedia seperti biasa.

"SPBU tersebut sampai sekarang masih kami stop untuk penyaluran subsidinya. Pertamax dan Dexlite (Non Subsidi) masih berjualan," ujarnya pada Tribunjambi.com pada Senin (13/4/2026).

Lebih lanjut, terkait dengan status izin usaha SPBU dia mengatakan bahwa pihaknya akan menunggu proses hukum terlebih dahulu.

"Sambil menunggu proses hukum selesai," kata Jason.

Untuk diketahui, pelangsir dan operator di SPBU Tebing Tinggi, Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Muaro Bungo diamankan pihak kepolisian. 

Keduanya melakukan aksi tersebut dengan modus menggunakan banyak barcode untuk isi ulang bahan bakar subsidi. 

Baca juga: SPBU Tebing Tinggi Bungo Terancam Dicabut Izinnya, Pelangsiran Rugikan Negara Rp276 M

Baca juga: Jambi Top 7, Operator SPBU di Bungo 13 Tahun Bobol BBM Subsidi Total Rp276 Miliar

Akibat aksi tersebut diektahui kerugian negara hingga Rp276 miliar.

Dua orang tersangka tersebut yakni inisial TS yang berperan sebagai pelangsir dan N yang merupakan operator di SPBU tersebut.

Dirreskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Taufik Nurmandia mengungkapkan bahwa operator juga memiliki lebih dari 80 barcode untuk memanipulasi pengisian bahan bakar subsidi tersebut. 

"Satu mobil ada yang punya 20 barcode," sebutnya.

Sementara itu, perhitungan kerugian negara sendiri diketahui dihitung sejak tahun 2013 hingga April 2026 ini.

"Berdasarkan hasil perhitungan bahwa kuota SPBU tersebut 16 ton perhari sehingga setiap harinya habis. Makanya kita hitung berdasarkan pelangsir 80 persen. Jadi selisih harga solar pada saat 2013 dengan solar industri 2013, kita kalikan dengan saat ini dan munculah angka itu," jelasnya. 

Taufik mengatakan bahwa kejadian ini bemula dari laporan warga yang curiga dengan aktivitas SPBU tersebut.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved