Berita Tanjab Timur
Nelayan di Tanjabtim Jambi Kesulitan dapat BBM Subsidi, Tak Ada Pangkalan di Desa
Ibnu Hajar (56), nelayan di Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjabtim, Jambi mengaku kesulitan mendapatkan BBM
Penulis: Khusnul Khotimah | Editor: Suci Rahayu PK
TRIBUNJAMBI.COM, TANJAB TIMUR - Keterbatasan akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar masih menjadi persoalan utama bagi nelayan di Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi.
Kondisi ini memaksa nelayan membeli solar non subsidi dengan harga lebih tinggi, sehingga berdampak langsung pada biaya operasional dan penghasilan yang tidak menentu.
Ibnu Hajar (56), nelayan setempat mengungkapkan bahwa saat ini desanya belum memiliki pangkalan resmi solar subsidi.
Akibatnya, para nelayan harus membeli BBM ke luar desa. Namun, ketika stok di luar desa habis, mereka terpaksa membeli dari pedagang lokal dengan harga lebih mahal.
"Kami biasanya beli di luar desa, tapi kalau habis terpaksa beli di dalam desa dengan harga Rp12.000 sampai Rp13.000 per liter, lebih mahal dari harga pangkalan sekira Rp10.000," katanya.
Kondisi tersebut semakin memberatkan karena kebutuhan solar untuk melaut cukup besar. Ia menjelaskan, untuk melaut di sekitar pinggiran laut, ia membutuhkan sekira 5 hingga 6 liter solar.
Sementara jika melaut lebih jauh ke tengah, konsumsi bisa mencapai 10 liter untuk sekali perjalanan pulang pergi.
"Kalau dihitung, sekali melaut bisa habis sekira Rp100.000 untuk solar saja, belum termasuk makan dan keperluan lain," jelasnya.
Baca juga: Kondisi Terkini Arus Balik Lebaran di Jalintim Jambi-Palembang Rabu 25 Maret 2026
Baca juga: Pemukul Nenek di Tanjabtim Larikan Rp1,6 Juta untuk Beli Pakaian saat Idulfitri
Di sisi lain, hasil tangkapan nelayan juga sangat bergantung pada kondisi cuaca. Menurutnya, saat angin kencang dan gelombang tinggi, banyak nelayan memilih tidak melaut karena risiko yang besar.
"Kalau di darat sudah terasa angin kuat, di laut ombak pasti lebih besar. Jadi kami takut melaut," ungkapnya.
Hal ini berdampak pada harga hasil tangkapan yang cenderung fluktuatif. Untuk jenis udang ketak, misalnya, harga bisa mencapai Rp150.000 per ekor saat cuaca buruk karena sulit didapat.
Sementara dalam kondisi normal, harganya sekira Rp40.000 hingga Rp50.000 per ekor.
Adapun harga ikan lainnya relatif stabil, seperti ikan senangin Rp70.000 per kilogram, kakap Rp60.000 per kilogram, dan bawal kecil Rp40.000 per kilogram.
Meski demikian, ia mengaku terkadang hasil tangkapan bisa untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Namun, pada kondisi tertentu, penghasilan bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp700.000 per hari bahkan lebih.
"Kadang dapat banyak, kadang tidak sama sekali. Bahkan ada hari hanya cukup untuk makan saja," ujarnya.
| Perang Timur Tengah Memanas, Bagaimana Ibadah Haji? Ini Kata Dubes Arab Saudi |
|
|---|
| Kondisi Terkini Arus Balik Lebaran di Jalintim Jambi-Palembang Rabu 25 Maret 2026 |
|
|---|
| Cek Fakta: Viral Kasat Lantas Polres Muaro Jambi Digerebek di Hotel, Ternyata Kejadian Tahun 2017 |
|
|---|
| Pembatalan Massal Peziarah Indonesia ke Vatikan, Kunjungan Anjlok Dampak Konflik Timur Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/25032026-nelayan.jpg)