Berita Internasioal

Bandara Arbil Diserang Drone, Irak Terjebak dalam Konflik Bayangan Timur Tengah

Serangan drone bermuatan bahan peledak dilaporkan menyasar Bandara Internasional Arbil, wilayah semi-otonom Kurdistan, Senin (30/6/2025) malam. 

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Generated Gemini AI
ILUSTRASI Serangan Drone. 

Kelompok-kelompok ini dikenal memiliki kemampuan merakit dan mengoperasikan drone secara otonom, serta telah beberapa kali melancarkan serangan ke pangkalan AS dengan modus yang serupa.

Menurut para analis keamanan, serangan ini bukan hanya serangan simbolis, melainkan sinyal akan strategi jangka panjang kelompok bersenjata dalam mendestabilisasi pengaruh Barat di Timur Tengah, khususnya di Irak yang tengah berjuang membangun ulang kedaulatan dan ekonominya.

 Antisipasi Gelombang Serangan Lanjutan

Pascainsiden, otoritas Kurdistan memperketat pengamanan di seluruh jalur masuk Arbil, termasuk meningkatkan patroli udara dan sistem pengawasan radar.

 Otoritas penerbangan sipil juga menyiapkan prosedur mitigasi tambahan di sekitar bandara.

Dana Tofeek, Direktur Sementara Bandara Internasional Arbil, menyampaikan bahwa operasional bandara tetap berlangsung normal meski satu penerbangan mengalami penundaan akibat pemeriksaan keamanan tambahan.

 “Kami tetap menjamin keselamatan penumpang, awak, dan aset strategis di bandara,” katanya.

Sementara itu, pemerintah pusat Irak bekerja sama dengan militer AS untuk mengidentifikasi asal drone dan memetakan potensi serangan susulan. 

Kerja sama intelijen juga melibatkan mitra dari negara-negara anggota koalisi untuk memastikan pendekatan pencegahan yang lebih terintegrasi.

Insiden drone di Arbil memperlihatkan bahwa kawasan yang semula dianggap relatif aman kini tak luput dari eskalasi militer akibat konflik global yang mengendap. 

Serangan semacam ini tidak hanya mengancam keselamatan personel militer, tetapi juga berdampak terhadap warga sipil, penerbangan komersial, serta proses stabilisasi pascaperang di Irak.

Para pengamat menilai bahwa jika eskalasi ini terus dibiarkan tanpa penyelesaian diplomatik, kawasan Timur Tengah berisiko kembali terseret ke dalam siklus konflik terbuka yang lebih luas. 

Ketegangan yang meningkat juga dapat berdampak pada harga energi global, keamanan maritim, dan relasi geopolitik yang lebih besar melibatkan Rusia, Tiongkok, hingga negara-negara Teluk.

Kawasan Arbil kini bukan hanya medan operasional militer, tetapi juga medan uji bagi masa depan perdamaian di Irak dan arah geopolitik kawasan.

(Tribunjambi.com/Tribunnews.com)

Baca juga: MENGAMUK Iran Serang Israel Bertubi-tubi, Kini Pakai Drone Bunuh Diri, Rudal hingga Pesawat Tempur

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved