Berita Internasioal
Bandara Arbil Diserang Drone, Irak Terjebak dalam Konflik Bayangan Timur Tengah
Serangan drone bermuatan bahan peledak dilaporkan menyasar Bandara Internasional Arbil, wilayah semi-otonom Kurdistan, Senin (30/6/2025) malam.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM -Serangan drone bermuatan bahan peledak dilaporkan menyasar Bandara Internasional Arbil, wilayah semi-otonom Kurdistan, Senin (30/6/2025) malam.
Meskipun tak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan fisik, insiden ini mempertegas posisi Arbil sebagai titik rawan dalam konflik proksi yang makin tajam antara kekuatan besar di Timur Tengah.
Menurut pernyataan Dinas Kontraterorisme wilayah Kurdistan, drone berhasil ditembak jatuh pada pukul 21.58 waktu setempat, hanya beberapa ratus meter dari area sensitif militer yang menjadi markas pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat.
“Pukul 9:58 malam, sebuah pesawat tanpa awak (drone) berisi bahan peledak ditembak jatuh di dekat Bandara Internasional Arbil, tanpa menimbulkan korban atau kerusakan,” demikian pernyataan resmi otoritas keamanan Kurdistan, dikutip dari The Times of Israel.
Sebagai ibu kota wilayah Kurdistan yang relatif stabil di tengah kondisi Irak yang penuh gejolak, Arbil selama ini berperan sebagai pusat logistik dan operasi militer internasional dalam melawan kelompok radikal seperti ISIS.
Namun, kestabilan ini mulai terancam oleh pola serangan yang makin terstruktur.
Pasukan koalisi yang dipimpin AS masih memegang peran strategis dalam operasi kontraterorisme di kawasan ini, menjadikan Bandara Arbil bukan sekadar fasilitas sipil, tetapi juga simbol kehadiran Barat yang kini jadi sasaran berbagai kelompok bersenjata yang menolak intervensi asing di Irak.
Serangan drone di Arbil tidak bisa dilepaskan dari deretan panjang insiden serupa dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak 2021, lebih dari 100 serangan dengan drone, rudal jarak pendek, dan mortir menghantam berbagai fasilitas militer di Irak, termasuk Bandara Baghdad, Pangkalan Al-Asad, dan Bandara Kirkuk.
Tahun 2022, laporan militer AS mencatat setidaknya 30 serangan. Namun, eskalasi makin melonjak pada 2023 hingga pertengahan 2024, beriringan dengan memburuknya hubungan AS dan kelompok milisi pro-Iran.
Pada minggu lalu saja, hanya beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, dua pangkalan militer Irak juga dihantam drone yang menarget sistem radar.
Serangan-serangan ini diyakini tidak berdiri sendiri. Banyak analis menilai aksi ini sebagai bagian dari perang proksi antara Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan antara kedua negara kian meningkat pasca-serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS menyusul perang singkat melawan Israel.
Hingga kini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden drone di Arbil.
Namun, dugaan kuat mengarah pada jaringan milisi yang berafiliasi dengan Iran seperti Kataib Hezbollah, Asaib Ahl al-Haq, atau unsur dalam aliansi Hashed al-Shaabi.
Kelompok-kelompok ini dikenal memiliki kemampuan merakit dan mengoperasikan drone secara otonom, serta telah beberapa kali melancarkan serangan ke pangkalan AS dengan modus yang serupa.
Menurut para analis keamanan, serangan ini bukan hanya serangan simbolis, melainkan sinyal akan strategi jangka panjang kelompok bersenjata dalam mendestabilisasi pengaruh Barat di Timur Tengah, khususnya di Irak yang tengah berjuang membangun ulang kedaulatan dan ekonominya.
Antisipasi Gelombang Serangan Lanjutan
Pascainsiden, otoritas Kurdistan memperketat pengamanan di seluruh jalur masuk Arbil, termasuk meningkatkan patroli udara dan sistem pengawasan radar.
Otoritas penerbangan sipil juga menyiapkan prosedur mitigasi tambahan di sekitar bandara.
Dana Tofeek, Direktur Sementara Bandara Internasional Arbil, menyampaikan bahwa operasional bandara tetap berlangsung normal meski satu penerbangan mengalami penundaan akibat pemeriksaan keamanan tambahan.
“Kami tetap menjamin keselamatan penumpang, awak, dan aset strategis di bandara,” katanya.
Sementara itu, pemerintah pusat Irak bekerja sama dengan militer AS untuk mengidentifikasi asal drone dan memetakan potensi serangan susulan.
Kerja sama intelijen juga melibatkan mitra dari negara-negara anggota koalisi untuk memastikan pendekatan pencegahan yang lebih terintegrasi.
Insiden drone di Arbil memperlihatkan bahwa kawasan yang semula dianggap relatif aman kini tak luput dari eskalasi militer akibat konflik global yang mengendap.
Serangan semacam ini tidak hanya mengancam keselamatan personel militer, tetapi juga berdampak terhadap warga sipil, penerbangan komersial, serta proses stabilisasi pascaperang di Irak.
Para pengamat menilai bahwa jika eskalasi ini terus dibiarkan tanpa penyelesaian diplomatik, kawasan Timur Tengah berisiko kembali terseret ke dalam siklus konflik terbuka yang lebih luas.
Ketegangan yang meningkat juga dapat berdampak pada harga energi global, keamanan maritim, dan relasi geopolitik yang lebih besar melibatkan Rusia, Tiongkok, hingga negara-negara Teluk.
Kawasan Arbil kini bukan hanya medan operasional militer, tetapi juga medan uji bagi masa depan perdamaian di Irak dan arah geopolitik kawasan.
(Tribunjambi.com/Tribunnews.com)
Baca juga: MENGAMUK Iran Serang Israel Bertubi-tubi, Kini Pakai Drone Bunuh Diri, Rudal hingga Pesawat Tempur
Remaja 16 Tahun Serang Sekolah di Brasil, 1 Siswa Tewas dan 3 Luka-Luka |
![]() |
---|
Polisi India Telat Datang 3 Jam, Pengusaha Kepalang Tewas Tertembak, Saudara Korban Marah |
![]() |
---|
Trump Ancam Serang Iran Jika Program Nuklir Diaktifkan Lagi |
![]() |
---|
AS Perketat Keamanan Usai Serangan ke Iran, Tempat Ibadah dan Fasilitas Publik Diperketat |
![]() |
---|
Terungkap Israel Ogah Stop Serangan Udara ke Iran, Peluang Perang Jangka Panjang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.