Berita Internasional

50 Anggota Gengster Abu Shabab di Palestina yang Dipersenjatai Israel Ditumpas Hamas

Lebih dari 50 anggota kelompok bersenjata dari gengster yang dipimpin Yasser Abu Shabab dilaporkan tewas dalam operasi militer Hamas

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Mareza Sutan AJ
X/@the cradle
GENGSTER PALESTINA - Yasser Abu Shabab, pimpinan gengster Palestina yang dipersenjatai Israel. 

TRIBUNJAMBI.COM - Lebih dari 50 anggota kelompok bersenjata dari gengster yang dipimpin Yasser Abu Shabab dilaporkan tewas dalam operasi militer yang dilakukan oleh Hamas, Rabu (11/6/2025).

Kelompok tersebut selama ini mengklaim bertugas menjaga dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza.

Namun, Hamas menuding mereka justru menyalahgunakan peran tersebut demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Kelompok Abu Shabab menuduh balik bahwa Hamas sengaja menyerang mereka demi menguasai penuh jalur distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Ketegangan antara keduanya meningkat seiring laporan dari media Israel yang menyebut keterlibatan langsung militer Israel dalam mendukung kelompok Abu Shabab.

Channel i24 melaporkan bahwa pesawat tak berawak (drone) Israel meluncurkan serangan ke posisi Hamas saat terjadi bentrokan dengan kelompok Abu Shabab.

Menurut pihak Israel, serangan tersebut ditujukan untuk membantu milisi Abu Shabab.

Sementara itu, media Israel Ynet menyebut kelompok Abu Shabab telah membunuh enam anggota pasukan keamanan internal Hamas.

Pasukan tersebut dikenal bertugas memburu warga Palestina yang diduga berkolaborasi dengan Israel.

Kelompok Abu Shabab sendiri telah lama dikenal memiliki catatan kriminal di Palestina.

Laporan dari Al Jazeera menyebut bahwa sejak akhir 2024, geng ini diduga direkrut dan dipersenjatai langsung oleh pasukan pendudukan Israel.

Mereka lalu diberi akses aman di wilayah yang berada di bawah kontrol Israel di tenggara Rafah.

Geng ini kini aktif di sekitar perbatasan Kerem Shalom, titik masuk utama bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Dari lokasi strategis tersebut, mereka dilaporkan mencegat konvoi bantuan, menjarah pasokan, dan menjualnya kembali kepada warga sipil.

Hasil penjualan digunakan untuk memperluas jaringan mereka.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved