Polemik di Papua

Pelajar di Papua Tolak Makan Bergizi Gratis, Jubir KNPB Singgung Penjajah Datang dengan Dua Wajah

Sejumlah pelajar di Papua unjuk rasa menolak salah satu program unggulan presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis.

Editor: Darwin Sijabat
Tribun Papua
PELAJAR UNJUK RASA TOLAK MAKAN BERGIZI GRATIS di PAPUA - Ratusan pelajar di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Senin (17/2/2025), menggelar aksi unjuk rasa menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh pemerintah pusat. Nampak Koordinator aksi, Ochep Youw, menyatakan pernyataan sikap kepada pemerintah pusat. 

Aksi unjuk rasa tolak Makan Bergizi Gratis di Papua.

TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah pelajar di Papua unjuk rasa menolak salah satu program unggulan presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis.

Pelajar tersebut menuntut agar pemerintah mengganti program tersebut dengan pendidikan gratis.

Penolakan yang terjadi di beberapa wilayah di Bumi Cendarawasih tersebut direspon Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Viktor Yeimo.

Dia menyinggung penjajahan yang terjadi di dunia. Dia mengungkapkan bahwa sepanjang sejarah, penjajah selalu datang dengan dua wajah.

Kata dia, wajah pertama datang dengan tangan menindas, tangan lainnya menawarkan kebaikan.

Yeimo menjelaskan, penjajah di berbagai belahan dunia telah menggunakan makanan sebagai senjata untuk membunuh, melemahkan dan menundukkan bangsa yang mereka jajah.

"Di Kanada, 1940-an sampai 1950-an, penjajah memaksa anak-anak sekolah di asrama makan makanan yang penuh zat kimia. Mereka bilang itu makanan sehat, tapi itu membuat anak-anak gizi buruk, lemah, sakit dan banyak mati," jelasnya melalui telepon selulernya kepada Tribun-Papua.com, Senin (17/02/2025).

Selain itu, kata Yeimo, selama perang Iran-Irak, ada laporan pasokan susu bubuk yang diberikan kepada anak-anak sekolah di Irak dan mereka telah terkontaminasi dengan zat beracun. 

Baca juga: Aksi Tolak Makan Bergizi Gratis di Wamena Papua Ricu, Ada Kepulan Asap

Baca juga: LBH Dampingi 15 Pelajar Diamankan Aksi Tolak MBG di Papua: Dibungkam, Alasan Tak Dapat Izin Polisi

Akibatnya, ribuan anak mengalami keracunan massal, banyak yang meninggal atau mengalami gangguan kesehatan permanen.

"Di Afrika Selatan 1980-an, di bawah rezim apartheid, anak-anak sekolah kulit hitam diberi makanan yang telah dicampur dengan zat kontrasepsi dan bahan kimia lain, melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka," ujarnya.

Ini Lanjut Yeimo, dilakukan untuk mengurangi pertumbuhan populasi kulit hitam dan menjaga dominasi kolonial kulit putih.

"Di Afghanistan, anak-anak dan pejuang diberikan makanan gratis yang ternyata sudah diracuni oleh Uni Soviet. Setelah mereka makan, tubuh mereka melemah dan banyak yang mati perlahan-lahan," ujarnya.

Dari sejarah yang dijelaskan itu Yeimo mengatakan bahwa penjajah tidak pernah memberi makan tanpa tujuan baik di dalamnya.

"Anak-anak sekolah juga menjadi target karena mereka adalah masa depan dari bangsa yang ingin ditundukkan penjajah. Penjajah selalu membunuh, merampas dan menindas, tetapi di saat yang sama, mereka membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan membagikan makanan," kata Mantan Ketua KNPB Pusat tersebut.

Belajar dari sejarah dunia, hal ini bukan karena mereka peduli, tetapi karena memastikan adanya sifat tunduk dan taat kepada negara tanpa sadar maupun tidak sadar. 

"Mereka ingin memastikan bahwa kita tetap tunduk dan bergantung kepada mereka," ujarnya.

Bahkan kata Yeimo, belajar dari sejarah Indonesia, Soekarno pernah bilang jangan sekali-kali percaya pada manisnya kata-kata penjajah.

"Mereka hanya ingin kita lupa bahwa kita masih dijajah. Penjajah memberimu makan gratis tapi tidak pernah memberi pendidiikan gratis apalagi menawarkan pendidikan yang membebaskan. Ini adalah siasat licik yang telah digunakan penjajah sepanjang sejarah untuk menguasai tubuh, pikiran dan tanah air kita," ujarnya.

Baca juga: 92 Anak TK/Paud Al Fatih Penerima Makan Bergizi Gratis di Jambi, Kepsek: Kebutuhan Gizi Tercukupi

Ia bahkan menambahkan jika orang Papua hidup maka, kata Yeimo tepatlah apa yang dikatakan Pendeta Benny Giyai bahwa, orang Papua masih hidup dalam penjara besar.

"Artinya, ini persis dengan penjara. Di sana kita makan gratis, tidur bangun dijaga dalam kurungan gratis, tapi tanpa memiliki kebebasan atau tetap dalam kurungan penjajah," tutupnya.

15 Pelajar Ditahan

Sebanyak 15 pelajar diamankan saat unjuk rasa menolak program Makan Bergizi Gratis di Papua dan menuntut menggantinya pendidikan gratis.

Belasan siswa yang ditahan Polsek Heram, Waena, Kota Jayapura itu mendapat pendampingan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua. Belasan siswa itu dilaporkan ditahan saat hendak menyampaikan aspirasi di sekitaran Expo Waena.

Staf LBH Papua, Imanus Komba mengatakan pihaknya mendapat informasi ada 15 siswa yang ditahan aparat kepolisian.

Sekitar pukul 7.00 WIT, para siswa tersebut berencana melakukan aksi di sekitaran Expo Waena.

"Untuk saat ini kami belum bisa pastikan kapan mereka ini akan dipulangkan. Namun, sesuai aturan, mereka pasti akan dipulangkan setelah dimintai keterangan dan saat ini kami sedang mendampingi," kata Imanus Komba kepada Tribun-papua.com di Polsek Heram.

Imanus juga menyebut, bahwa ada dua siswa yang diduga dipukul oleh aparat kepolisian. 

Satu anggota OSIS terkena pukulan di bagian kepala, dan satu siswa lainnya luka-luka dan berdarah. Menurutnya, tindakan aparat kepolisian tersebut melanggar undang-undang konstitusi.

Baca juga: Janji TNI Amankan Program Makan Bergizi Gratis dari Ancaman KKB Papua

Aksi yang dilakukan para siswa merupakan wujud penyampaian aspirasi di muka umum yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Penyampaian Pendapat di Muka Umum.

"Aksi tersebut dibungkam dengan alasan (dalil) bahwa aksi tersebut tidak mendapatkan izin dari pihak Polresta dan Polda Papua. Saat ini kami pengacara sedang melakukan pendampingan di Polsek Heram," tegasnya.

Apalagi, sambung Imanus, tujuan aksi para siswa adalah menyampaikan aspirasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua.

Tuntutan mereka adalah menolak program makan gizi gratis dan meminta pendidikan gratis. "Tindakan polisi yang tidak terpuji ini jelas-jelas melanggar konstitusi negara Indonesia, menggunakan pakaian seragam memukul anak-anak pelajar yang mengenakan pakaian seragam putih abu-abu," tegas Imanus.

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: 12 Anggota Polda Papua Dapat Penghargaan, Gabung Tim Pembebasan Pilot Susi Air yang Disandera KKB

Baca juga: Prediksi Skor Darul Takzim FC vs Pohang di Liga Champions AFC, Cek H2h dan Statistik Tim

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Tebo 17 Maret 2025

Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Bungo 17 Maret 2025

Artikel ini tayang di Tribun-Papua.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved